“Iuran Fraksi yang Mana?”

Sementara Nurlaela Syarif kepada tandaseru.com mengaku sangat kaget dengan penyampaian Hatari di WAG tersebut. Sebab menurunya, persoalan internal partai tak seharusnya disampaikan ke grup eksternal.

“Jadi apa yang disampaikan beliau seharusnya lebih pada internal partai,” tuturnya.

Nurlaela juga membantah tudingan Hatari bahwa dirinya tak pernah membayar iuran fraksi.

“Iuran fraksi itu kan model pembayarannya lewat autodebit, jadi semua itu ada bukti pembayaran melalui bank. Jadi setiap tanggal bulan berjalan secara otomatis itu dipotong. Jadi saya juga bingung yang dimaksud uang fraksi yang mana? Karena uang fraksi itu berdasarkan SK sebagai kader wajib bayar dong, jadi yang dimaksud saya juga bingung,” jelasnya.

Ia menyayangkan langkah Hatari yang membongkar persoalan internal partai ke publik.

“Jadi semestinya hal-hal seperti ini berkaitan dengan internal partai diselesaikan dengan dipanggil saja. Meski informasi itu dari luar, tapi semestinya secara etika dibicarakan di internal partai,” ujarnya.

“Jika Pak Hatari juga menyinggung atas kinerja yang menyatakan merusak marwah partai, itu maksudnya gimana? Secara pribadi juga bingung apa yang dimaksud Pak Hatari. Jadi berkaitan dengan segala kinerja yang sudah dijalankan, kemudian tidak ada kepuasan, baiknya disampaikan secara internal, bukan secara eksternal apalagi di dalam grup yang justru banyak mitra kerja. Selama ini saya juga belum pernah dipanggil,” sambung Nurlaela.

Ia menambahkan, saat ini dirinya masih fokus menjalankan tugas sebagai wakil rakyat di parlemen.

“Karena sementara ini juga masih fokus di DPRD soal renja dan RPJMD, belum soal Covid-19. Jadi masalah seperti ini sekali lagi diselesaikan secara internal,” pungkasnya.

Sebelumnya, Nasdem telah lebih dulu mencopot Nurlaela dari posisi Sekretaris DPW Nasdem Malut. Pencopotan ini disusul dengan pencopotannya sebagai Ketua Fraksi Nasdem di DPRD.