“Paling kalau piknik sekolah dia tidak bisa ikut, karena tidak ada yang bisa dampingi. Tapi kalau bikin tugas bersama, kadang teman-temannya datang jemput dan gendong dia,” tuturnya.

Faralita Rumawir (15 tahun) dan sang ibu. (Tandaseru/Irjan Rahaguna)

Selama masa liburan, Fira lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah.

“Kalau libur dia sendiri di kamar, kadang di depan TV. Dia suka ceramah, bernyanyi, tiru lagu di Indosiar. Pokoknya dia suka tiru kreatifitas di TV begitu,” kata Suharni.

Pekan lalu, Fira dinyatakan berhasil lulus SD. Di saat bersamaan, kembarannya dan teman-teman sebayanya sudah naik ke bangku kelas 3 SMP.

“Fira ini punya kemauan sekolah tinggi sekali. Dia bilang di saya, kalau belum bisa sekolah, kase beli buku dengan pena biar dia bisa menulis di rumah,” imbuh Suharni.

Usai dinyatakan lulus, kepala sekolah dan guru Fira memintanya tetap melanjutkan sekolah ke SMP. Di desa mereka, ada SMP yang bisa menjadi tempat menimba ilmu bagi gadis kecil ini.

Sayangnya, lokasi SMP lebih jauh dari rumah dibandingkan SD. Sementara Fira sendiri hingga kini belum memiliki kursi roda.

Orang tuanya pun mengaku khawatir Fira tak bisa diterima di SMP karena kondisi tubuhnya. Ketiadaan fasilitas antar jemput juga menambah beban keluarga ini, sebab Suharni dan Yunus harus pergi ke kebun nyaris tiap hari.

Tak hanya itu, seragam sekolah Fira juga harus dijahit sendiri karena ukuran tubuhnya yang mungil.

“Saya bilang tara usah sekolah sudah, Fira tara bisa bajalang kong. Tapi Fira bilang ‘saya tetap sekolah karena saya punya cita-cita jadi guru’,” ucap Suharni dengan mata berkaca-kaca.

Di sela obrolan tandaseru.com dengan Suharni, Fira ikut menyampaikan cita-citanya menjadi guru. Ia pun mengaku teman-temannya di sekolah selalu membantu kekurangannya.

“Saya mau tetap sekolah. Saya mau jadi guru,” tukasnya.