Selama sebulan Fira harus menjalani pengobatan alternatif itu. Pendidikannya pun terpaksa berhenti sementara.
Sebulan dipijat, Fira mulai sembuh. Namun ia hanya bisa berdiri. Kakinya tak bisa dilangkahkan kemana-mana.
“Tapi pas diurut alhamdulillah tidak keluar biaya, karena tong (kami, red) punya papa tua yang urut,” sambung Suharni.

Fira terpaksa istirahat sekolah selama 2 tahun berikutnya. Aktivitas sehari-harinya pun harus dibantu orang tua dan saudaranya. Bahkan untuk hal kecil seperti mengambilkan ponsel atau menghidupkan televisi.
“Jadi harus ada yang jaga-jaga dia. Karena tidak bisa jalan sendiri, jadi harus selalu dibantu,” tutur Suharni.
“Semua torang bantu. Kalau saya dengan suami pigi kebun, torang titip Fira di rumah adik saya atau orang tua saya. Terus kadang dia pe ade yang jaga-jaga, ambil makanan dan lain lain,” terangnya.
Hebatnya, cobaan itu tak membuat Fira mengubur impiannya bersekolah. Ia kembali melanjutkan sekolah walau harus digendong orang tuanya pergi-pulang sekolah sejauh 300 meter.
“Kadang kalau torang terlambat jemput, guru atau temannya yang gendong dia antar pulang ke rumah,” kisah Suharni.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.