“Jadi benda-benda ini bukan saya saja yang punya. Ada masyarakat yang dapat, mereka antar langsung ke saya untuk disimpan,” tuturnya.

Makin banyaknya koleksi yang terkumpul membuat Muhlis berpikir untuk membuka museum mini di rumahnya. Tujuannya, generasi muda dapat melihat langsung bukti sejarah yang pernah berlangsung di Morotai.

Benda-benda koleksi Museum Swadaya Perang Dunia II di Morotai. (Tandaseru/Irjan Rahaguna)

Pria tamatan SMA itu pun menghibahkan rumahnya untuk Museum Swadaya Perang Dunia II. Letaknya agak jauh dari permukiman warga, namun bisa ditempuh dengan kendaraan maupun jalan kaki.

“Tujuan membangun museum agar koleksi peninggalan benda-benda tersebut bisa dijaga, dan mengajarkan kita dan generasi penerus soal sejarah perang dunia kedua yang ada di Morotai,” cetusnya.

Museum ini sudah dikunjungi ribuan wisatawan domestik maupun mancanegara. Tokoh-tokoh seperti Duta Besar Amerika Joseph R. Donovan Jr., Menteri Pendidikan Muhadjir Effendy, Menteri Pariwisata Arief Yahya, hingga Bupati Morotai pernah mampir ke lokasi tersebut.

Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia (2017-2020), Joseph R. Donovan Jr. (batik cokelat) saat berkunjung ke Museum Swadaya PD II. (Istimewa)

Saat ini, Muhlis masih aktif melakukan pencarian ‘harta karun’ benda sejarah peninggalan perang. Ia juga masih bertahan dengan alat-alat sederhananya: besi untuk menusuk tanah, cangkul dan linggis. Koleksi Museum Swadaya kian beragam, hingga sepeda antik pun ikut dipajang.

Baginya, mengumpulkan benda-benda tersebut bukan aktivitas memperkaya diri. Namun demi melestarikan fakta sejarah pentingnya peran Morotai dalam salah satu perang terbesar di dunia.