Di usia belia itu, ia berhasil mengumpulkan setidaknya 100 item benda bersejarah. Di antaranya botol minum berbahan kaca dan besi putih, rantang makanan, senduk, garpu, berbagai macam peluru, granat, topi baja, ransel, senjata, tabung oksigen, dan lain-lain.

Benda-benda koleksi Museum Swadaya Perang Dunia II di Morotai. (Tandaseru/Irjan Rahaguna)

Namun berbeda dengan anak-anak lain, Muhlis tak menjual benda-benda temuannya. Sang ayah melarangnya.

“Jadi papa sering kasih ingat saya agar tidak jual benda-benda itu. Karena sudah banyak pengalaman orang-orang dapat bom lalu dijual, ketika diketuk bomnya meledak dan mereka meninggal. Makanya papa ingatkan tidak menjual benda-benda itu karena takut ada senjata yang masih aktif dan nantinya membahayakan saya sendiri kalau terjadi apa-apa,” terang Muhlis.

Sejak saat itu, Muhlis memilih mengoleksi benda-benda peninggalan perang yang ia temukan. Makin banyak koleksinya yang disimpan di kamar, makin jatuh cinta ia pada benda bersejarah.

Benda-benda koleksi Museum Swadaya Perang Dunia II di Morotai. (Tandaseru/Irjan Rahaguna)

Seiring bertambahnya usia, koleksi Muhlis makin bertambah jumlahnya. Warga sekitar yang menemukan benda peninggalan perang pun secara sukarela menyerahkan temuan mereka pada Muhlis.