Tandaseru — Duta Kreator Indonesia (DKI) bakal meramaikan tahun 2021 dengan perhelatan Ekspedisi Pesona Maluku Utara. Jelang ekspedisi yang bakal digelar di tujuh kabupaten/kota itu, DKI melaksanakan Focus Group Discussion (FGD) Pemulihan Pariwisata dan Pelestarian Hutan Malut di Ekowisata Cengkeh Afo Tongole Ternate, Sabtu (9/1) sore.

FGD di bawah rimbunan pepohonan cengkeh berusia ratusan tahun itu menghadirkan sejumlah stakeholders selaku pembicara. Sekretaris Daerah Provinsi Malut Samsuddin A. Kadir membuka kegiatan tersebut dan Pimpinan Bank Indonesia Perwakilan Malut Jefry Dwi Putra ikut memberikan sambutan khusus.

Kepala Dinas Pariwisata Kota Ternate Rizal Marsaoly dalam penuturannya menyampaikan, potensi wisata di Ternate terdiri dari banyak subsektor dan destinasi. Demi mengembangkannya secara efektif dan efisien, butuh kerja sama seluruh pemangku kepentingan untuk bergerak bersama.

“Salah satu contoh di Ternate di Kelurahan Tongole ini. Awalnya adalah satu kawasan hutan pala dan cengkeh yang tidak begitu menjadi daya tarik. Kemudian Bang Kris (Kris Syamsuddin, pengelola Ekowisata Cengkeh Afo, red) datang berkolaborasi dengan Pak Dwi (Dwi Tugas Waluyanto, mantan Kepala BI Malut, red) dan memanfaatkan ruang ini untuk menjadi salah satu objek atau destinasi baru yang konsepnya adalah ekowisata,” kata Rizal.

Rizal bilang, pengembangan destinasi wisata juga tetap harus memperhatikan aspek lingkungan. Ia mencontohkan Taman Love Moya, Ternate Tengah.

“Butuh sedikit ketegasan terkait dengan pemanfaatan ruang lingkungan yang ada di sekitar karena di Taman Love ada beberapa masalah yang mungkin bisa terjadi ke depan. Dinas terkait, yaitu Dinas PU, juga harus membatasi untuk membuka akses-akses jalan, entah itu jalan produksi ataupun jalan-jalan yang akan cenderung mendorong orang membuka pemukiman baru di lokasi-lokasi itu,” ujarnya.

Ekowisata, sambungnya, memiliki konsekuensi pembukaan ruang ekonomi baru. Ketika ruang ekonomi baru ada, beberapa hal yang harus dipertimbangkan dan diproteksi dalam bentuk regulasi diantaranya adalah menjaga keseimbangan ruang untuk dipelihara ke depan.

“Karena Taman Love yang saya lihat kemarin itu ada bangunan-bangunan yang mau dibuat semipermanen, sedangkan orang-orang yang naik capek-capek ke Taman Love itu untuk melihat pemandangan kesempurnaan Kota Ternate dari titik itu. Karena itu kita berpikir untuk ke depannya pertegas bahwa karena di sana zona merah hutan lindung (sehingga pembangunan akan dibatasi). Karena kemarin ada satu regulasi yang telah diberi izin untuk memanfaatkan kurang lebih 35 tahun termasuk Tolire Besar,” tegas Rizal.

Sementara Pegiat Seni Abdurrahman Soleman menuturkan, Malut memiliki banyak tarian dan lagu tradisional yang sebenarnya jadi daya tarik untuk para peneliti musik etnik karena keunikannya.