Oleh: Herman Oesman
Dosen Sosiologi FISIP UMMU
________
“…Setiap halaman dari bukunya…nama Taufik Adnan Amal akan hadir kembali, bukan sebagai orang yang telah pergi, melainkan sebagai seorang pengkaji (eksegesis) yang meninggalkan jalan…”
ADA orang yang pergi meninggalkan nama. Ada pula yang pergi meninggalkan jejak pemikiran. Taufik Adnan Amal adalah bagian dari yang kedua.
Kepergiannya pada 5 Oktober 2026 menyentak bagi yang mengenalnya. Perginya, menjadi kehilangan bagi dunia intelektual Islam Indonesia, terutama bagi mereka yang selama ini melihat Alquran bukan sekadar teks yang dibaca secara repetitif, melainkan sebagai khazanah pengetahuan yang terus mengundang penelitian, perenungan, perdebatan, dan penafsiran.
Dilahirkan di Bandung, 12 Agustus 1962, Taufik Adnan Amal menempuh pendidikan di Fakultas Syariah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, yang kemudian dikenal sebagai akademisi yang menekuni studi Alquran, khususnya ‘Ulumul Qur’an, sejarah teks, tafsir, modernisme Islam, dan hubungan antara Islam dengan persoalan kemodernan.
Acep, demikian sapaan akrabnya, juga pernah menjadi pengajar pada Fakultas Syariah IAIN Alauddin Makassar. Dalam perjalanan intelektualnya, Taufik tidak hanya hadir sebagai dosen, tetapi juga sebagai penulis, penerjemah, penyunting, dan penggerak wacana yang disegani.
Di antara karya awal Taufik adalah Metode dan Alternatif Neomodernisme Islam, sebuah karya terjemahan dan suntingan tulisan-tulisan cendekiawan Muslim terkemuka, Fazlur Rahman. Ia kemudian menulis Islam dan Tantangan Modernitas: Studi atas Pemikiran Hukum Fazlur Rahman yang diterbitkan Mizan tahun 1989.
Buku itu berasal dari pergulatan akademiknya terhadap pemikiran Fazlur Rahman dan memperlihatkan perhatian kuat Taufik pada persoalan bagaimana tradisi Islam membaca perubahan zaman.
Dengan jumlah halaman 250 lembar, buku tersebut merupakan salah satu karya penting, bagaimana Taufik memperkenalkan pemikiran Fazlur Rahman kepada pembaca Indonesia.
Karya lain yang dilahirkan Taufik adalah Tafsir Kontekstual Al-Qur’an (Mizan, 1989), yang ditulis bersama sohibnya, almarhum Samsu Rizal Panggabean.
Buku ini menabalkan keberpihakan intelektual Taufik dan Samsu Rizal pada pembacaan Alquran dengan mempertimbangkan konteks. Taufik, demikian juga Samsu Rizal, tidak ingin Alquran berhenti sebagai teks yang dibaca secara harfiah, tetapi bagaimana pesan-pesannya berjumpa dengan realitas sosial yang terus berubah.
Dengan itulah, nama Taufik mungkin paling kuat melekat pada karyanya, buku Rekonstruksi Sejarah Al-Quran. Itulah buku yang diterbitkan Pustaka Alvabet Jakarta, dan pertama kali hadir tahun 2013 dengan ketebalan sekitar 465–484 halaman.
Buku ini membicarakan asal-usul dan pewahyuan Al-quran, proses pengumpulan, mushaf Utsmani, stabilisasi teks dan bacaan, hingga hubungan kaum Muslim dengan Alquran serta perkembangan kesarjanaan Barat terhadap kitab suci tersebut.
Yang menarik, Taufik tidak menempatkan sejarah Alquran sebagai wilayah yang harus ditakuti. Ia justru menghadapinya sebagai medan akademik. Untuk memahami itu semua, Taufik menggunakan pendekatan historis secara serius, tetapi tidak serta-merta menanggalkan dimensi keagamaan.
Buku Rekonstruksi Sejarah Al-Quran, merupakan usaha Taufik yang brilian dengan mempertemukan penelitian sejarah dengan kesadaran religius. Di sinilah keberanian akademik Taufik terlihat. Di mana Alquran dapat dikaji secara kritis tanpa harus kehilangan kedudukannya sebagai kitab suci.
Pada bagian awal buku, Taufik membahas asal-usul dan pewahyuan Alquran mulai halaman 1, lalu pengumpulan Alquran (hal. 135), Mushaf Utsmani (hal. 251), stabilisasi teks dan bacaan (hal. 293), kemudian pembahasan mengenai kaum Muslim dan Al-Qur’an (hal. 378) serta kesarjanaan Barat (hal. 413). Struktur ini memperlihatkan keluasan medan kajian yang ingin Taufik bentangkan.
Pemikirannya tidak lahir di ruang kosong. Taufik berdialog dengan Fazlur Rahman, William Montgomery Watt, Arthur Jeffery, serta tradisi kesarjanaan Barat tentang Al-Qur’an. Tak heran, Taufik menggali ilmu hingga ke Jerman.
Di titik ini, Taufik memiliki posisi penting dalam sejarah intelektual Islam Indonesia. Di mana Taufik menjadi salah satu jembatan antara tradisi keislaman Indonesia dengan perkembangan studi Alquran global.
Fazlur Rahman, misalnya, mengingatkan pentingnya membedakan prinsip-prinsip moral Alquran dengan respons terhadap situasi historis tertentu.
Dalam buku “Islam and Modernity” (1982), Fazlur Rahman, menempatkan persoalan metodologi dan hermeneutika sebagai kunci pembaruan pemikiran Islam. Gagasan semacam ini sangat dekat dengan atmosfer intelektual yang membentuk Taufik.
Tidak hanya itu, dalam perkembangan studi Al-Qur’an kontemporer, Ilmuwan Angelika Neuwirth (2019) juga memperlihatkan pentingnya membaca Al-Qur’an dalam konteks sejarah kemunculannya dan lingkungan intelektual Late Antiquity. Neuwirth menempatkan sejarah teks sebagai bagian penting dari usaha memahami Al-Qur’an secara lebih utuh.
Sementara Nicolai Sinai (2017) menunjukkan, studi historis-kritis Al-Qur’an perlu memperhatikan lingkungan Qur’ani, hubungan dengan Nabi Muhammad, serta konteks sosial dan intelektual kemunculannya.
Hal yang sama, Abdullah Saeed (2006), dalam pembahasannya mengenai kandungan etika-hukum Al-Qur’an, juga menekankan perlunya kerangka metodologis agar pesan Al-Qur’an dapat dibaca secara relevan dalam konteks kontemporer.
Empat rujukan asing yang sengaja dikutip di atas, Fazlur Rahman, Angelika Neuwirth, Nicolai Sinai, dan Abdullah Saeed, memperlihatkan bahwa medan yang digarap Taufik sesungguhnya berada dalam percakapan akademik global.
Tetapi Taufik tidak berhenti pada Al-Qur’an. Bersama Samsu Rizal Panggabean, Taufik menulis Politik Syariat Islam : Dari Indonesia hingga Nigeria (2004). Buku ini membandingkan persoalan penerapan syariat di sejumlah negara Muslim, termasuk Indonesia, Mesir, Sudan, Nigeria, Pakistan, Afghanistan, dan Malaysia.
Dari sana tampak bahwa perhatian Taufik juga menjangkau hubungan agama, negara, hukum, politik, dan masyarakat. Taufik juga menerjemahkan dan menyunting sejumlah karya penting. Di antaranya ; Pengantar Studi al-Qur’an : Penyempurnaan atas Karya Richard Bell (Bell’s Introduction to the Qur’an) karya William Montgomery Watt (RajaGrafindo Persada,1995); Islamic Fundamentalism and Modernity karya William Montgomery Watt, diterjemahkan : Fundamentalisme Islam dan Modernitas (RajaGrafindo Persada, 1988); serta Agama dan Budaya Perdamaian, karya Chaiwat Satha-Anand, diterbitkan Forum Kajian Budaya dan Agama (FKBA) Yogyakarta bekerja sama dengan Quaker International Affairs serta Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian UGM, 2001).
Dari daftar tersebut, memperlihatkan satu hal : Taufik bukan sekadar konsumen literatur asing. Taufik merupakan mediator pengetahuan. Taufik membawa perdebatan akademik internasional ke ruang baca Indonesia.
Jejak itu bahkan bersentuhan dengan Maluku Utara melalui dunia penyuntingan. Taufik Adnan Amal menjadi penyunting buku Kepulauan Rempah-rempah: Perjalanan Sejarah Maluku Utara 1250–1950 karya ayahandanya, M. Adnan Amal yang diterbitkan KPG tahun 2016.
Buku tersebut menjadi salah satu karya penting dalam memperkenalkan sejarah Maluku Utara kepada pembaca yang lebih luas. Maka, ketika seorang eksegesis, pengkaji pergi, yang sesungguhnya tinggal bukan hanya buku-bukunya. Yang tinggal adalah pertanyaan-pertanyaan yang pernah ia ajukan.
Taufik mengajarkan, Al-Qur’an tidak boleh dipenjara oleh cara membaca yang tunggal.
Taufik mengajarkan, sejarah tidak harus menjadi ancaman bagi iman. Ia juga memperlihatkan, tradisi keagamaan justru dapat tumbuh ketika berani berdialog dengan ilmu pengetahuan.
Perginya Taufik adalah kehilangan seorang intelektual. Tetapi karya-karyanya membuat kepergian itu tidak pernah benar-benar selesai. Buku-bukunya akan terus dibuka. Catatan-catatan akademiknya akan terus dibaca. Perdebatan tentang sejarah Al-Qur’an akan terus berlangsung.
Setiap halaman dari buku karya Taufik yang kita baca, nama Taufik Adnan Amal akan hadir kembali, bukan sebagai orang yang telah pergi, melainkan sebagai seorang pengkaji (eksegesis) yang meninggalkan jalan.
Ia telah pergi dari dunia. Tetapi pertanyaan-pertanyaannya masih tinggal. Barangkali, di situlah seorang intelektual menemukan bentuk keabadiannya. 5 Oktober 2026, Sang Eksegesis itu pergi selamanya, meninggalkan legacy yang bernilai bagi dunia intelektualisme. (*)




Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.