Tandaseru — Delapan dari total 19 bahasa daerah di Provinsi Maluku Utara kini berada dalam kondisi rawan dan terancam punah. Terputusnya transmisi atau pewarisan bahasa dari generasi tua ke generasi muda menjadi penyebab utama ancaman tersebut.

Kondisi kritis tersebut disampaikan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) Hidayat Widiyanto saat menemui Sekretaris Daerah Provinsi Maluku Utara Samsuddin A Kadir di Ternate, Selasa (29/9/2026).

“Di Maluku Utara sendiri, dari total 19 bahasa daerah yang ada, sebanyak delapan bahasa daerah kini dalam kondisi rawan dan terancam punah akibat hilangnya transmisi antargenerasi tersebut,” kata Hidayat.

Menanggapi hal tersebut, Samsuddin mengakui tantangan melestarikan bahasa daerah di wilayahnya tergolong berat. Asimilasi budaya serta tingginya angka perkawinan antarsuku membuat intensitas penggunaan bahasa daerah, seperti bahasa Ternate, kian menurun di tengah masyarakat.

“Pekerjaan untuk merawat bahasa daerah tentu saja menjadi berat ketika kita mulai memasuki asimilasi atau perkawinan antarsuku. Oleh karena itu, kami sangat bersyukur atas kolaborasi bersama Balai Bahasa agar kita bisa terus menjaganya,” ujar Samsuddin.

Samsuddin menegaskan, pelestarian bahasa daerah harus tetap berjalan seiring dengan penguatan bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu antarsuku di sekolah maupun masyarakat. Ia juga mendorong perluasan program literasi seperti perpustakaan keliling untuk meningkatkan minat baca siswa.

Dalam pertemuan tersebut, Kemendikdasmen turut mengajukan dukungan Pemprov Maluku Utara untuk empat program prioritas Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Salah satu program utamanya adalah pengiriman buku bacaan bermutu ke 749 sekolah, yang mencakup 513 SD (masing-masing menerima 200 eksemplar/100 judul) dan 236 SMP (masing-masing menerima 300 eksemplar dari 100 judul).

Berdasarkan data yang dihimpun, delapan bahasa daerah yang mengalami penurunan penutur dan menjadi objek revitalisasi meliputi:

  • Bahasa Ternate
  • Bahasa Tobelo
  • Bahasa Makian Dalam (Makean Dalam)
  • Bahasa Makian Luar (Makean Luar)
  • Bahasa Sahu
  • Bahasa Sula
  • Bahasa Bacan
  • Bahasa Buli

Selain kedelapan bahasa di atas, wilayah Maluku Utara sebelumnya bahkan mencatat satu bahasa daerah yaitu Bahasa Ibo di Halmahera Barat yang kini hampir punah karena hanya menyisakan sedikit atau bahkan satu penutur, serta Bahasa Ternateno yang masuk catatan sejarah telah punah.

Ika Fuji Rahayu
Editor
Ika Fuji Rahayu
Reporter