“Terima kasih juga kepada semua pihak yang telah membantu sehingga FGD ini bisa berjalan dengan lancar,” tutupnya.

Beberapa pihak yang diundang dalam FGD ini turut memberi apresiasi atas apa yang telah dilakukan Zulkifli bersama komunitas Besa ma Cahaya selama ini.

Pendeta Fileks Talakua tokoh agama Pulau Tifure yang hadir dalam FGD tersebut, menyampaikan apreseasi atas apa yang dilakukan Besa ma Cahaya. Dia bilang, Zulkifli tidak hanya punya gagasan tetapi juga aksi dalam tingkat praksis yang mengingatkan semua pihak bahwa Kecamatan Batang Dua juga bagian dari Ternate sehingga penting juga diperhatikan. Perlu dilakukan riset agar arah kebijakan tepat sasaran. Berkaitan dengan air tanah bukan hanya soal menyimpan tetapi juga mengkonsumsi.

“Air bersih menjadi kebutuhan masyarakat termasuk kami di Batang Dua. Air di sana mengandung zat kapur khususnya di Tifure dan sangat tinggi karena itu butuh riset untuk diketahui kelayakan dan dampaknya secara kesehatan. Di sana air bersih terkadang di distribusi dari Bitung dengan harga Rp 30 ribu/per gelon. Hal ini perlu menjadi perhatian bersama,” tuturnya.

Ketua Badan Pembentukan Peraturan Daerah (Bapemperda) DPRD Kota Ternate Junaidi A Bahrudin yang hadir FGD itu menyampaikan bahwa hal seperti ini perlu dilalukan dengan melibatkan lebih bnyak pemangku kepntingan. Tujuannya agar permasalahan pengelolaan sumber daya air di kota Ternate bisa menjadi arus utama perencanaan pembangunan daerah ke depan

Apalagi dalam waktu dekat Pemkot Ternate akan menyusun dokumen Perda Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota ternate. Sehingga itu perlu didorong isu-isu pengelolaan sumber daya air dan konservasi air tanah ke dalam perencanaan jangka panjang. Demikian halnya penyusunan RPJMD 5 tahun ke depan.

“DPRD Kota Ternate mendorong Bappelitbangda agar fokus melakukan riset terkait permasalahan air bersih di Kota Ternate,” harapnya.