Sementara untuk FGD adalah memberikan gambaran ketersediaan dan pengelolaan sumber daya air di Kota Ternate, menginventarisasi permasalahan dan solusi penanganannya. Melalui FGD ini juga disosialisasikan Instalasi Pemanfaatan Air Hujan yang terintegrasi dengan Lubang Injeksi Air Hujan (iPAH lia Hujan).

“Output FGD ini adalah rekomendasi pengelolaan sumber daya air di Kota Ternate baik dari aspek hukum maupun teknis yang akan disampaikan kepada Pemerintah secara berjenjang dan stakeholders terkait,” paparnya.

Menurutnya, bicara ketersediaan dan pengelolaan sumberdaya air di Kota Ternate bukan hanya di Pulau Ternate saja, tapi juga Pulau Hiri, Pulau Moti, Pulau Mayau dan Pulau Tifure yang dari tahun ke tahun sebagian warganya mengalami kendala mengakses air bersih yang berkelanjutan. Tidak semua sumber air warga di sana bisa dikonsumsi untuk minum dan masak. Warga harus mengambil air layak dari sumber-sumber yang lain.

“Kami dari Besa Ma Cahaya sangat bahagia bisa melaksanakan FGD ini karena dihadiri narsumber dan peserta yg memberikan tambahan banyak referensi dari berbagai perspektif terkait ketersediaan dan pengelolaan airtanah,” jelas Zulkfili.

Referensi-referensi itu menjadi ikhtiar bersama terkait ancaman krisis air bersih di Kota Ternate yang merupakan kota pulau kecil apalagi dikaitkan dengan perubahan iklim global yang dampaknya telah dirasakan.

Dalam FGD itu Zulkifli turut menyampaikan terima kasih kepada para pihak seperti Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Maluku Utara, BWS Maluku Utara dan Dirut BPRS Bahari Berkesan yang telah mendukung dan bantuannya melalui Program Sedekah Air Hujan.