Sekali lagi, pertemuan para Kolano (raja) Moloku Kie Raha di masa lalu merupakan tonggak penting dalam perjalanan sejarah daerah-daerah di Nusantara di masa depan. Inti yang terkandung dalam pertemuan tersebut adalah “Persatuan dan Kesatuan” dalam wilayah empat kerajaan (Moloku Kie Raha) yang kemudian menjadi entitas tak terpisahkan dari eksistensi “Nusantara” di masa kini.
Alasan terpenting mengapa pertemuan dari empat persekutuan kerajaan (Moti Verbond) tersebut dijadikan sebagai akar sejarah politik Nusantara, karena pada pertemuan itulah empat Kolano (raja) Moloku Kie Raha tidak sekadar mengikrarkan sebuah semboyan melainkan sebagai dasar persatuan dan kesatuan “kebangsaan” yaitu: “Marimoi ngone futuru (Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh), Dofu se ma dofu marimoi bato (Berasal dari kerajaan yang berbeda tetapi kita adalah satu), Moloku Kie Raha ma asal rimoi bato, ma kabasaran se ma istiadat rimoi bato (empat kerajaan Maluku berasal dari satu keturunan dengan kejayaan dan istiadat yang satu pula.
Sejarah sering berulang, demikian ungkapan umum atas peristiwa masa lalu yang kerap terulang dalam periodesasi perjalanan hidup dan jejak peradaban umat manusia oleh para aktor yang tentu berbeda zamannya. Membangun kembali (reinventing) narasi agung tentang ihwal persatuan di tengah bahaya laten dan manifest disintegrasi bangsa dalam momentum perayaan kemerdekaan Republik Indonesia ke-78 semakin menjadi istimewa bagi masyarakat Maluku Utara dalam balutan event “Moti Bersuara 1322”.

Moti di 1322 merupakan momentum spektakuler dalam dinamika ruang-ruang kekuasaan politik kawasan di aras lokal, namun membuka tabir akan kemajuan jalan pikiran para leluhur kita akan politik kebangsaan yang humanis dan egaliter yang dibangun berorientasi masa depan (futuristik) melampaui zamannya. Terbukti, spirit persatuan dengan semangat lokalitas dalam ungkapan Marimoi Ngone Futuru (bersatu kita teguh) menjadi relevan di masa kini, teristimewa di momentum bulan kemerdekaan.
Moti 1322 seolah membuktikan tidak sekadar peristiwa kesejarahan dalam bingkai geografis dan adminsitratif Moloku Kie Raha semata, melainkan pula sebuah momentum revolusi pikiran yang meninggalkan jejak nyata pusaka pengetahuan (sosiolinguistik, etnografi, dll) yang menjadi menarik untuk didalami dan diimplentasi melalui regulasi kebijakan politik pembangunan kebudayaan dan pendidikan yang berorientasi dan berpihak pada masyarakat.
Semarak gelaran event Moti Bersuara 1322 yang akan dilaksanakan di Pulau Moti pada Sabtu (12/8) dijamin memukau banyak orang dengan berbagai rangkaian acara menarik. Selain kampanye makin cakap digital melalui talkshow bertajuk “Konten Kreatif Berbasis Budaya Lokal” dengan menghadirkan para konten kreator Maluku Utara sebagai narasumber, gelaran event ini juga akan menjadi lebih semarak dengan berbagai item acara yang menghibur juga sarat nilai edukatifnya.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.