Dari tempat ini, kemudian mereka berpindah tempat dan membuat satu pemukiman baru yang dinamakan Fola Raha. Meskipun di kawasan Fola Raha banyak tinggalan bekas pondasi hunian (susunan batu), makam tua, dan jere namun dalam pengamatan di lapangan, wilayah ini masih satu kawasan dengan Gale Mauli. Kemungkinan besar Fola Raha adalah rumah ritual bagi Fola Simo waktu itu.
“Setelah Sultan Al Mansur bertahta (1512-1526) di Istana Selawaringin di Mareku. Anak, cucu Kolano Balibunga dan Fola Simo kemudian membuat pemukiman baru yang disebut Nyiha Mara. Penempatan ini atas prakarsai oleh Sultan Al Mansur. Karena wilayah Mareku sangat besar saat itu, wilayahnya dibagi menjadi dua bagian, yaitu: Mareku Loa Hako/Laho (bawah) dan Mareku Loa Isa/Laisa (atas) atau Mareku Atas dan Mareku Bawah yang dipimpin oleh masing-masing sangaji (Clercq, 1890). Sejak saat itu, pemukiman Nyiha Mara secara administrasi masuk dalam wilayah sangaji Loa Isa,” terang Irfan.
Pemukiman Nyiha Mara dan Mareku juga pernah mengalami serangan dan terjadi pembakaran rumah penduduk, kemudian ditinggalkan dan kembali ke Gale Mauli.
“Setelah berkuasanya Sultan Amiruddin Iskandar Zulkarnain, tepatnya pada tahun 1530, wilayah pelabuhan Balibungga sampai hari ini dan menamakan wilayah tersebut sebagai kampung Rum,” tandasnya.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.