“Perpindahan ini agar pemukiman tersebut tidak terlalu jauh dengan pusat kekuasaan yang saat itu berada di Seli. Sumber lain menyebutkan bahwa pusat kekuasaan Kolano Balibunga saat itu sudah berada di pesisir (wilayah PLTU). Akan tetapi, sumber ini masih perlu diteliti lebih lanjut karena pusat kekuasaan di Tidore pertama kali berada di pesisir dibawakan oleh Sultan Al Mansur (1512-1526) dan bertahta di Kadato Sela Waringin, Mareku,” ungkap Irfan.

Menurutnya, sesuai catatan Amin Faroek (2016) yang bertajuk “Jejak Sejarah Kesultanan Tidore”, ketika masa pemerintahan Sultan Ciriliyati/Djamaluddin (1495-1512) pusat kekuasaan Tidore masih berada di Seli. Meskipun demikian, Sultan telah mengutus beberapa perangkat kesultanan Tidore ke wilayah Weda, Patani, Maba, dan Papua untuk melakukan perdagangan, menyebarkan Islam, serta meluaskan wilayah kekuasaan kesultanan Tidore.

“Sultan Ciriliyati juga menempatkan pasukan kerajaan dari Fola Simo yang dipimpin oleh Kapita Basiama dan menempati wilayah pesisir dan menamakan wilayah Balibunga (wilayah PLTU). Penempatan wilayah tersebut karena wilayah itu adalah salah satu pelabuhan dagang terbaik milik Kesultanan Tidore yang berhadapan langsung dengan pelabuhan Talangame, Ternate,” jelas Irfan.

Dosen Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Khairun ini juga mengungkapkan aktor ekologi dan kapal dapat berlabuh dengan aman, terlindung dari ombak besar, angin, dan arus. Selain itu, pelabuhan ini diapit oleh tebing di bagian utara, pulau Maitara di bagian selatan, dan pulau Ternate di barat. Sehingga sangat strategis untuk melakukan kontak perdagangan dengan para saudagar, dan manuver dalam penyerangan bila terjadi peperangan.

“Sesuai keterangan Badar Taib (70 tahun) dan Abubakar Senen (70 tahun), meskipun Tidore saat itu memiliki tempat yang strategis, dalam beberapa peristiwa pasukan kesultanan Tidore mengalami kekalahan bila terjadi peperangan dengan para perompak, seperti yang dialami oleh Kapita Basiama. Basiama pernah gagal membendung serangan dari perompak pada tahun 1504. Bukan saja mengalami kekalahan, beberapa penduduk yang menempati wilayah pelabuhan ditangkap termasuk anaknya, Simo Tu. Anak ini menurut tradisi lisan dari Fola Simo dijual sebagai budak di Ambon,” katanya.

“Selain itu, pengakuan Muhammad Juni (68 tahun), tidak ada keterangan berapa lama Tu berada di Ambon. Besar kemungkinan anak ini dijual kembali di Malaka, kemudian dibebaskan oleh Ferdinand Magellan sebagai budak kemudian dibaptis dan diberi nama Enrique Maluku. Setelah peristiwa yang memilukan itu, pasukan Fola Simo kembali meninggalkan wilayah Balibunga dan menempati kembali pemukiman yang telah dibentuk sebelumnya, Gale Mauli. Tidak ada keterangan tertulis berapa lama wilayah itu ditempati oleh anak cucu dari Kolano Balibunga serta Fola Simo,” imbuh Irfan.