“Penamaan ini mulai digunakan ketika Kaicil Rade menjabat sebagai Perdana Menteri mendampingi Sultan Amiruddin Iskandar Zulkarnain (1526-1535) dan memegang kendali Kesultanan Tidore, setelah kematian Sultan Al Mansur (1512-1526). Kekalahan itu, meninggalkan kepedihan bagi orang Tidore, karena harus meninggalkan ibukota kesultanan, Mareku, atas serangan Portugis dan Ternate pada 1524 (Amal, M. A, 2010) dan 1525 (Garcia, 1992),” jelasnya.
“Sultan Amiruddin Iskandar Zulkarnain yang saat itu masih di bawah umur menyerahkan kekuasaan penuh kepada Kaicil Rade kurang lebih 3 tahun. Kaicil Rade sangat disegani penguasa Spanyol, Portugis, dan Ternate. Memiliki beberapa prestasi yang gemilang dan salah satunya pernah memimpin pasukan Tidore sebanyak 5.000 prajurit menyerang Portugis—Ternate dan memenangkan peperangan itu seperti dijelaskan Hubert & Jacobs (1971),” tambah peneliti yayasan The Tebings Maluku Utara ini.
Berdasarkan pengalaman strategi perang serta memiliki pengetahuan ajaran Agama Islam yang bagus. Kaicil Rade memberikan nama pasukannya sebagai Pasukan Rum.

“Pemberian nama itu dengan harapan pasukan perang Kesultanan Tidore yang telah kalah perang memiliki semangat juang yang tinggi dan menjadi garda terdepan Kesultanan Tidore untuk menjemput kemenangan kembali, seperti bangsa Romawi. Pasukan Rum adalah orang-orang pilihan berani mati demi kejayaan kembali Kesultanan Tidore,” terang Irfan.
Sebagai garda terdepan kesultanan, Kaicil Rade yang saat itu berstatus sebagai Perdana Menteri menempatkan pasukan tersebut dekat dengan pelabuhan Tidore (kawasan Balibunga, lokasinya kini sekitar Pembangkit Listrik Tenaga Uap—PLTU) berhadapan langsung dengan pelabuhan Talangame (Bastiong Ternate).
“Strategi ini dipakai karena hampir semua penyerangan yang datang dari Ternate melalui pelabuhan Talangame, dan bila terjadi penyerangan Pasukan Rum akan mengetahui lebih duluan sehingga dapat menghalau penyerangan ke ibukota, istana sultan,” tutur Irfan.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.