“Saya tuntut mereka yang sudah menganiaya anak saya. Tadi saya ke Propam Polda Malut, cuma mereka tidak ada. Karena anak saya dianiaya bukan baru kali ini. Kasihan tulang rusuknya sudah pernah patah saat dia masih menjalani pendidikan di SPN Sofifi dan juga dianiaya seniornya. Saya mau lapor, cuma dia bilang jangan mama, karena dia juga jaga institusi kepolisian. Iya betul bagi mama kamu hebat, tapi mama tidak sanggup kamu begini terus,” ucap Yati sembari meneteskan air mata.
“Anak saya sudah dipukul seniornya ulang-ulang. Tapi saya tidak tahu nama seniornya. Saya paksa kasih tahu nama seniornya, tapi dia tidak mau beri tahu saya. Saya sudah punya firasat ketika dia dipukul. Jadi dia pulang tadi malam sekitar jam 3 subuh sampai di rumah langsung tersungkur. Bayangkan, dia tidak sadar dari tadi malam sampai dia mengeluarkan busa dari mulutnya,” jelas Yati.
Yati menuturkan, saat ini anaknya tengah menjalani hukuman di pos Provos. Namun ia mempertanyakan pemukulan terhadap putranya itu.
“Mereka buang isu bahwa anak saya tidak masuk selama satu bulan, padahal semuanya bohong. Dia pergi berobat karena kakinya sakit saat bermain bola, dan itu ada surat izinnya selama 7 hari, bahkan diizinkan di Danton,” jabarnya.
Musa Idrus, paman korban, menambahkan sebelum ponakannya pingsan sempat menyebutkan bahwa ia dianiaya enam seniornya.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.