Semburat senja mulai merayap turun perlahan di ufuk barat, pertanda maghrib akan segera menyapa. Orang tua itu mulai mengemasi beberapa buku yang dibawanya dan dimasukkan ke dalam tas yang mulai terlihat lusuh.
”Insha Allah, kapan-kapan kita lanjutkan lagi dialog ini, ya anak muda? Maghrib hampir tiba,” sambil berdiri dengan sedikit berat.
”Dengan senang hati dan selalu berharap dapat berdialog dengan Anda, semoga Anda tidak bosan denganku,” aku cepat berdiri dan menyambar tangannya, kujabat erat, mencium punggung tangannya, dan menatap matanya yang teduh.
Orang tua itu tersenyum penuh ketulusan, lalu kami mulai berjalan perlahan ke arah matahari yang mulai terbenam. Sayup-sayup, terdengar lantunan ayat suci al-Qur’an dari kejauhan. Tak terasa, buku Muqaddimah yang aku pegang terjatuh. Aku pun tersadar. Ternyata aku baru saja bermimpi dan berdialog dengan Ibnu Khaldun.(*)


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.