“Anak muda, kamu terlalu melambungkan anganmu pada titik yang demikian tinggi. Padahal buku Muqaddimah, hanyalah “pendahuluan” dari buku lain yang nanti kau akan mengerti lebih luas lagi. Memang sebelum Muqaddimah, telah ada karyaku berjudul : Kitab al-I’bar wa Dhuan al-Mubtada’ wa al-Khabar fi Ayyam alA’rab wa al-‘Ajam wa al-Barbar wa man ‘Asharahiim min Dzawi al Suthan al-Akbar…” jawabnya dengan tenang.
“Bisakah Anda menjelaskan kepadaku, bagaimana pandangan Anda tentang suatu kota, sebagaimana yang Anda tulis dalam Muqaddimah ? Di mana Anda mengutip para filosof (al-Hukama) dengan menyatakan bahwa manusia bersifat politis menurut tabiatnya, sehingga itulah organisasi kemasyarakatan merupakan suatu keharusan, yang dalam konsep Anda disebut dengan “Kota” (al-Madinah). Itulah yang menurut Anda dengan peradaban,” tanyaku.
Sembari batuk-batuk kecil orangtua itu lalu mulai menjelaskan.
“Kota harus menjadi tempat tinggal yang aman dan nyaman bagi penduduknya. Untuk keamanan diperlukan benteng dan jembatan yang memisahkan kota dengan wilayah di sekitarnya. Dari sisi kesehatan, perlu dipastikan sirkulasi udara dan ketersediaan sumber air bersih. Sedangkan dari sisi ekonomi, rumah tangga para penduduk kota perlu didorong untuk beternak dan bercocok tanam, di samping perlu juga menjalin hubungan dagang antar-wilayah. Kota dengan segala kompleksitasnya, merupakan representasi perkembangan ilmu pengetahuan serta pola pikir dan nilai-nilai yang dianut masyarakat. Sebagai cerminan kehidupan sosial dan budaya masyarakatnya. Kota juga mengalami dinamika sesuai dengan dinamika penduduknya,”urainya.
“Pada tahap awal,” lanjutnya, “ketika jumlah penduduk suatu kota masih terbatas, wujud fisik kota biasanya sangat sederhana. Jumlah, kualitas dan kompleksitas bangunan yang ada terus meningkat sejalan dengan bertambahnya penduduk, tenaga ahli, dan materi yang tersedia. Sebaliknya, jika suatu hari karena suatu sebab tertentu, terjadi penurunan tingkat peradaban dan/atau jumlah penduduk, wujud fisik kota juga mengalami kemunduran. Begitulah suatu kota,” sembari menerawang jauh ke angkasa.
“Bila suatu kota yang mulai merangkak maju dengan pertumbuhan ekonominya, tentu akan timbul implikasi sosial budaya? Bagaimana Anda melihat ini?” tanyaku.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.