Maskur kecil amat terpukul dengan meninggalnya sang nenek. Bahkan ia menolak saat jenazah neneknya hendak dibawa ke pekuburan.

“Setelah nenek dikuburkan, aku tidak mau pulang dari kubur. Karena kita berdua punya perjalanan hidup yang sangat dekat,” tutur pria 39 tahun ini dalam tayangan tersebut.

Semasa hidupnya, nenek Maskur kerap membuat pisang goreng dan Maskur lah yang menjajakannya di kampung mereka, Kelurahan Seli.

“Jam 2 subuh aku sama nenek bikin nasi jaha, lalu ditaruh di dalam saloi. Nenek lalu pikul saloi itu dan gendong aku, kemudian jalan kaki puluhan kilo dari sini sampai Toloa,” kenangnya.

“Sampai suatu ketika, karena terlalu berat muatan di saloi, kaki nenek keseleo dan luka. Luka itulah yang bikin nenek sakit berkepanjangan. Sering jualan pun nggak laku,” cerita Maskur.