Tandaseru — Duta Kreator Pecinta Alam (Dekapala) Indonesia menggelar launching Ekspedisi Talaga Rano di Cafe Jarod Ternate, Sabtu (21/11) malam. Peluncuran tersebut ditandai dengan penyerahan beberapa bibit tanaman seperti bibit pohon pala, durian dan cengkeh.

Penyerahan bibit tanaman ini sebagai simbol kepedulian terhadap hutan dan alam di Maluku Utara.

Penyerahan bibit pohon secara simbolis dalam launching Ekspedisi Talaga Rano. (Tandaseru/Yunita)

Launching juga dirangkaikan dengan diskusi bertemakan “Air, Hutan dan Manusia”. Diskusi tersebut menghadirkan Kepala Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (BPDASHL) Ake Malamo Asih Yunani, Wakil Ketua DPRD Maluku Utara M. Rahmi Husen, dan Sekretaris Bappeda Malut Khalid Alkatiri sebagai narasumber. Sementara jurnalis senior Mahmud Ichi bertindak sebagai moderator. Hadir pula Wakapolda Malut Brigjen Pol Lukas Akbar Abriari.

Ketua Duta Kreator Indonesia Thamrin Ali Ibrahim menuturkan, Ekspedisi Talaga Rano akan dilaksanakan pada 12-14 Desember 2020 di Halmahera Barat. Dalam ekspedisi, ada kegiatan eksplor ekosistem Talaga Rano, penghijauan 1.000 pohon, silaturahmi daerah pecinta alam, lokakarya pengelolaan daerah aliran sungai dan konservasi hutan, phonegrapher competition, serta deklarasi cinta Talaga Rano.

“Ekspedisi akan diikuti sekitar 300 peserta,” ucap Thamrin.

Dalam penyampaiannya Asih Yunani menuturkan, sistem pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah namun menjadi tanggung jawab semua pihak. Baik pemerintah, swasta maupun masyarakat.

Dengan adanya penyerahan bibit tanaman ini dapat mendorong perbaikan kondisi lingkungan.

“Dengan adanya pohon maka dapat menahan kondisi tanah karena pohon itu mampu menyimpan air didalamnya,” tuturnya.

Sementara M. Rahmi Husen menyatakan, anak-anak komunitas pencinta alam merupakan penyelamat hutan di Maluku Utara.

Penyerahan bibit pohon secara simbolis dalam launching Ekspedisi Talaga Rano. (Tandaseru/Yunita)

Ia bilang, 5 hingga 10 tahun ke depan Malut akan berada dalam ancaman krisis air bersih. Pasalnya, hutan setiap harinya tergerus dengan adanya pemukiman baru. Hal ini jelas menjadi ancaman.

“Setiap tahunnya orang bakal membangun perumahan dan semakin menuju ke hutan, ini membuat hutan kita bakal terkikis habis. Bagaimana kita dapat melindungi hutan tersebut, maka hadirnya sosialisasi ini, dengan penanaman pohon menjadi solusi kita,” paparnya.

Sementara Wakapolda Malut mengakui, Ternate mempunya alam yang indah, memiliki pantai yang sulit ditemukan di daerah Jakarta maupun Semarang. Di sisi lain, di sini juga ada ancaman, misalnya sampah.

“Dan kami berharap dengan adanya pemilihan kepala daerah yang baru nanti, maka sampah ini menjadi penting untuk diperhatikan. Siapapun yang menjadi pemimpin harus memperhatikan kondisi sampah saat ini karena ini menjadi ancaman untuk kita,” ucapnya.

Peluncuran Ekspedisi Talaga Rano juga diramaikan komunitas pecinta alam, mahasiswa, dan aktivis lingkungan. Kegiatan ini disponsori PT Harita Nickel, Royal Restaurant, Villa Gaba Jailolo, BPDASHL Ake Malamo, Dinas Kehutanan Malut, Polda Malut, Kiffa Printing, Taruna Eka Pala, Fordas Malut, dengan media partner Malut Post dan Tandaseru.com.