Tandaseru — Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Maluku Utara Fachruddin Tukuboya akan melaksanakan sidang promosi doktor Ilmu Lingkungan di Universitas Indonesia (UI), Sabtu (28/12/2024). Sidang terbuka ini dijadwalkan berlangsung di gedung IASTH Kampus UI Salemba.
Sidang tersebut akan dipimpin Dr. dr. Tri Edhi Budhi Soesilo, dan dihadiri sejumlah tokoh penting, seperti Pj Gubernur Maluku Utara Samsuddin A. Kadir, pimpinan DPRD Maluku Utara, serta rektor dan akademisi dari dalam dan luar negeri.
Dalam penelitiannya, Fachruddin mengangkat topik “Model Pemberdayaan Berbasis Kalender Penghidupan Suku Togutil Berkelanjutan” yang merupakan kajian mendalam tentang komunitas adat Suku Togutil di Pulau Halmahera, Maluku Utara.
Penelitian Fachruddin berfokus pada strategi penghidupan KAT (Komunitas Adat Terpencil) Suku Togutil, dengan tujuan utama memahami kalender penghidupan, aset, serta strategi bertahan hidup mereka. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan merumuskan model pemberdayaan yang berkelanjutan berbasis kalender penghidupan.
Data UNESCO (2022) menunjukkan, masyarakat adat menempati 22 persen wilayah global, dengan sekitar 70 persen dari mereka berada di Asia. Di Indonesia sendiri, terdapat 2.161 komunitas adat, termasuk Suku Togutil yang populasinya diperkirakan mencapai 3.000 orang.
Sebagian besar hidup terisolasi dan menghadapi tantangan berat, seperti marginalisasi sosial dan ekonomi, serta eksploitasi sumber daya alam.
Menurut Kadis Lingkungan Hidup, Provinsi Maluku Utara ini, kondisi KAT Togutil di Halmahera mirip dengan tantangan yang dihadapi komunitas adat lain, seperti Suku Baka di Kamerun atau Hadza di Tanzania.
“Penelitian ini menjadi langkah penting untuk memahami dan menyusun strategi pemberdayaan yang sesuai dengan karakteristik mereka,” ungkap Fachruddin, Jumat (27/12/2024).
Ia berharap hasil penelitiannya dapat memberikan manfaat teoritis dan praktis. Secara teoritis, penelitian ini memperkaya wawasan tentang siklus kehidupan, aset, dan strategi bertahan hidup KAT Togutil.
Secara praktis, kata Fachrudin, model pemberdayaan yang dirumuskan diharapkan dapat menjadi panduan kebijakan bagi pemerintah dalam mengelola program pemberdayaan komunitas adat terpencil.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, melibatkan observasi intensif di wilayah administrasi Kabupaten Halmahera Timur dan Kota Tidore Kepulauan selama periode Januari hingga Oktober 2023.
Dengan topik yang relevan dan mendalam, sidang promosi doktor Fachruddin diprediksi akan menjadi momen penting, tidak hanya bagi dirinya, tetapi juga dalam pengembangan konsep pemberdayaan komunitas adat di Indonesia.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.