Oleh: Bung Opickh
Penulis Buku
________
KECANDUAN politik dapat membuat kita lupa menggunakan rasionalitas ketika berada di tengah-tengah badai hipnotis. Publik digiring menuju suatu titik pemikiran yang hanya bermodalkan fanatisme, sentimen dan pragmatis dari hasil doktrinasi elit politik tertentu. Nyaris politik dianggap tabu, jahat, bengis dan bahkan dijadikan momentum kartelisasi para hegemoni yang haus kekuasaan.
Pikiran rakyat diobrak-abrik, isu dipelintir sana-sini dan bahkan para hipokrit; pendusta tiba-tiba dianggap sebagai malaikat yang membawa berita kebenaran. Tentu bagi kaum intelektual situasi ini tak boleh dianggap biasa. Kita harus tegas dan konsisten untuk memberikan keterangan kepada publik bahwa politik itu baik.
Politik merupakan instrumen untuk menegakkan kebenaran, kebebasan, sebagai upaya mendistribusikan keadilan dan kesejahteraan bersama, kira-kira kurang lebih begitu yang disampaikan Jhon Locke dan Rousseau para pemikir abad pertengahan di Eropa.
Sementara demokrasi adalah sebuah sistem pemerintahan yang kekuasaannya diperoleh dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat (Abraham Lincoln). Definisi lain, menurut Rocky Gerung “demokrasi adalah pemerintahan yang lahir dari akal sehat yang didelegasikan oleh rakyat”.
Olehnya itu, di penghujung dinamika politik Maluku Utara, kita tetap berharap agar setiap kandidat, tim sukses dan penyelenggara untuk memberikan pemahaman politik yang tercerahkan. Jauhi isu-isu yang memecahkan persaudaraan dan persatuan serta kesetaraan.
Sebab akhir-akhir ini, jelang 6 hari pencoblosan ini, media sosial dan cerita dari mulut ke mulut nyaris hanya tentang etnisitas, kepentingan kelompok, fitnah dan hal-hal tetek bengek yang tak bernutrisi. Padahal publik membutuhkan keterangan finishing yang lebih detail tentang visi-misi para kandidat untuk menentukan pilihannya mereka.
Tetapi hemat saya ada pelajaran yang hendak kita petik dari dinamika ini, sebagai catatan kritis di kemudian hari. Bahwa mayoritas dari kita selain memahami politik itu kotor, jahat dan bengis. Mereka juga memahami momen politik sebatas transaksi, pesta, selebrasi, road show, pleidoi, dan bahkan hipokrit dipandang jagoan dalam adu argumentasi. Kesemua itu semata-mata untuk menjadi pemenang dalam kompetisi demokrasi hari ini.
Tentu tak mudah mencerahkan publik, kita membutuhkan waktu yang cukup panjang untuk memperbaiki kualitas demokrasi yang berbasis pada ide dan gagasan. Tetapi setidaknya ada upaya konkrit yang terus kita lakukan. Jika tidak kaum intelektual yang baik akan sulit untuk berkompetisi sebagai kandidat di masa depan, karena beban logistik (uang politik) menjadi penentu. Bukan untuk politik uang tetapi uang politik atau biaya operasional Pilkada.
Sebaliknya Pilkada akan menjadi momentum yang tepat dan spesial bagi pemilik modal (kartel) dan para hipokrit untuk merebut atau melanjutkan ikhwal kekuasaan. Tetapi kita tak mesti pesimis, harus optimis bahwa di pilkada tahun 2024 ini, pasti ada salah satu kandidat yang bisa diandalkan untuk membawa ikhtiar kebaikan rakyat Maluku Utara di 5 tahun ke depan.
Karena itu, jadilah pemilih yang berdaulat. Pemilih berdaulat adalah pemilih yang mempunyai kebebasan penuh dan cerdas menentukan pilihannya. “The right vote is the freedom man by right mind”. Ia tak bisa dibohongi, tak didoktrin, tak didogmatisasi, tak terhipnotis oleh uang, kepentingan personal-kelompok, tarikan etnisitas, intimidatif dan karena terpaksa dan sebagainya.
Jadi sebelum kita menentukan pilihan, hendaknya memeriksa semua prilaku keseharian para kandidat, track record mereka dan reputasi apakah baik atau buruk. Kita tak cukup sebatas mendengar visi-misi dan promosi tim sukses entah secara offline atau online di media sosial. Karena jika hanya cerita yang kita dengar bisa saja ada asam, manis dan pahitnya yang ditambahkan.
Menurut Aristoteles dalam bukunya yang berjudul “Retorika”, bahwa untuk memeriksa perkataan seseorang itu benar atau tidak, kita harus menelisik kualitas dari tiga entitas; pertama Logos yaitu apa yang kandidat sampaikan logis atau tidak. Kedua Pathos yaitu bagaimana reputasi kandidat di pikiran publik (reputasinya) dan Ethos artinya apa yang biasanya dia sampaikan itu selalu ditepati atau tidak (amanah).
Toteles menekankan agar kita hendaknya tidak tergesa-gesa, tidak boleh menggunakan sentimen dan doktrinasi pihak tertentu dalam menetapkan pilihan. Sebab salah memilih dalam demokrasi adalah kesalahan yang paling fatal; merusak demokrasi dan menciptakan tirani. Hemat saya, lebih baik salah memilih pasangan atau cinta daripada salah memilih pemimpin.
Karena salah pasangan hanya merusak satu masa depan rumah tangga tetapi salah memilih pimpinan dapat merusak tatanan kehidupan suatu daerah, bangsa dan negara. Di penghujung tulisan ini, tentu kita semua mempunyai mimpi yang sama bahwa suatu saat nanti pikiran publik akan tercerahkan untuk tiba pada kesadaran dalam melahirkan pemimpin yang bijaksana seperti Umar Bin Khattab atau di pikiran orang Yunani “The King of Philosophy” Pemikir yang memimpin. Begitu kata Plato. (*)


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.