Tandaseru — Operasi Patuh Kieraha 2020 yang digelar Polda Maluku Utara dan Polres jajaran sejak 23 Juli resmi berakhir, Rabu (5/8). Dalam pemaparan hasil operasi, Kota Ternate menempati urutan pertama banyaknya kendaraan yang ditilang lantaran pengendaranya melanggar lalu lintas.

Dalam konferensi pers, Kamis (6/8), Direktur Ditlantas Polda Malut, Kabid Humas Polda Malut AKBP Adip Rojikan yang didampingi Direktur Lalu Lintas Polda Malut, Kombes (Pol) Twedi Aditya Bennyahdi yang diwakili KBO Ditlantas Polda Malut, AKBP Akbar R. Polhaupessy, dan Wadir Lantas AKBP Driyano A. Ibrahim mengungkapkan, jumlah personel Polda Maluku Utara dan Polres jajaran yang dilibatkan dalam Operasi Kepolisian Terpusat Patuh Kieraha 2020 sebanyak 202 personel yang terdiri atas Polda 24 personel dan Polres jajaran 178 personel.

KBO Dit Lantas Polda Malut, AKBP Akbar R. Polhaupessy, menambahkan, selama operasi berjalan 14 hari terjadi beberapa perubahan yang cukup signifikan.

“Operasi kemarin kita mengutamakan promotif dan preventif, jadi promotif 40 persen dan preventif 40 persen. Sedangkan dalam penindakan dalam hal ini penilangan hanya 20 persen,” ujarnya.

Akbar bilang, untuk tilang pada 2019 sebanyak 7.559 kendaraan, pada 2020 turun menjadi 1.656 kendaraan. Sedangkan pemberian teguran pada 2019 sebanyak 2.074 dan 2020 sebanyak 2.326 atau naik 252 kasus.

“Penindakan pelanggaran, teguran dan tilang tertinggi Operasi Patuh tahun 2020 dari tanggal 23 Juli sampai 5 Agustus terdapat di Polres Ternate menempati urutan pertama untuk jumlah tilang sebanyak 334 tilang, 263 teguran. Sedangkan Polres Morotai menempati urutan pertama untuk teguran sebanyak 540 teguran, 191 tilang,” jabarnya.

Jenis pelanggaran terbanyak adalah tidak menggunakan helm sejumlah 1.305 pelanggar, surat-surat (STNK/SIM) tidak lengkap 237 pelanggar, melawan arus 51 pelanggar, pengendara di bawah umur 37 pelanggar, dan tidak memakai safety belt 25 pelanggar.

“Pelanggar didominasi oleh karyawan swasta dan lain-lain sebanyak 1.220 orang, diikuti pelajar dan mahasiswa 252 orang dan PNS sebanyak 144 orang,” sambung Akbar.

Operasi Patuh kali ini, kata Akbar, mengalami penurunan kasus dibandingkan dengan tahun 2019.

“Faktor utama yang memicu terjadinya penurunan adalah meningkatnya kesadaran masyarakat,” pungkasnya.