Tandaseru — Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Maluku Utara menggelar coffee morning bersama awak media di Ternate, Selasa (15/6). Kegiatan ini mengangkat tema “Coffee Morning Awak Media dalam Jurnalisme Damai”.

Jurnalis senior, Mahmud Ici menuturkan, tingkat kesadaran jurnalis di Malut terkait isu keagamaan sudah cukup baik. Ia mencontohkan, kasus dugaan penistaan agama baru-baru ini di Pulau Morotai, media sempat memberitakan namun hingga sampai penangkapan saja. Setelah itu sudah tidak diberitakan lagi.

“Ini artinya media sudah mulai paham, apa saja pemberitaan yang perlu dibesar-besarkan. Jika hingga pada penangkapan itu sudah menjadi kewajiban aparat kemanan,” jelasnya.

Ia juga menyanpaikan soal informasi yang lebih cepat menyebar saat ini melalui media sosial seperti Facebook dan lainnya.

“Yang sulit dikendalikan saat ini malah media sosial seperti Facebook. Orang lebih cepat menyebarkan informasi tanpa melakukan kroscek terlebih dahulu,” kata jurnalis Mongabay Indonesia ini.

Karena itu, sambungnya, sudah seharusnya masyarakat menjadi penikmat media sosial yang bijaksana.

“Saat ini banyak media nasional yang memiliki ruang cek fakta. Jika kita butuh data akurat bisa dicek di laman media nasional yang memiliki ruang cek fakta,” tuturnya.

Gelaran coffee morning jurnalisme damai yang digagas Kanwil Kementerian Agama Maluku Utara. (Tandaseru/Yunita Kaunar)

“Media mainstream saat ini sudah memiliki ruang cek fata. Jika informasi yang diragu kebenarannya kita bisa cek di salah satu media mainstream, di laman cek fakta itu kita bisa kantongi data-data yang akurat terhadap satu informasi,” jelas Mahmud.

Jurnalis Antara, Abdul Fatah menambahkan, jurnalisme damai di Maluku Utara saat ini menjadi tanggung jawab sesama wartawan di Malut.

“Media merupakan pilar demokrasi dan merupakan sarana penyampaian informasi yang bersifat edukasi. Sudah seharusnya setiap informasi harus diramu dengan baik agar menjadi edukasi terhadap masyarakat,” ujarnya.

Sementara, Portala dan Kerukunan Beragama Kantor Kemenag Malut, Safril menyampaikan, jurnalisme damai merupakan penyampaian informasi media terhadap publik soal jurnalisme damai di Maluku Utara.

“Dengan adanya diskusi seperti kita juga mendapatkan gambaran seperti apa jurnalisme damai, dan atas penyampaian oleh kedua narasumber ini menjadi pengetahuan kita terkait sistem penyajian informasi terkait keberagaman di Malut itu sendiri,” tandasnya.