Oleh: Mansyur Armain

______

HENING. Di rumah itu, mati lampu. Gelap. Malam membuat kebangkitan, kejayaan, yang tak terlupakan para dotu-dotu, gosimo, dan ngofa se dano berdoa menyambut kedatangan tetamu yang datang di malam Tidore Tempo Doeloe.

Dari deretan pagar, nyala obor, serta tenda yang terbungkus daun kelapa. Di dalam tenda itu, terdapat empat lampu lentera yang diam. Memberi nyala di malam itu, sangat tenang. Tak ada angin. Nyala api di dalam kaca, seperti rakyat sedang melakukan ritual adat.

Kalau dilihat, meja dan kursi menggunakan kayu. Laki-laki memakai takoa dan ikat kepala, dan perempuan memakai kebaya, melingkari kepala dengan kain serta menggunakan kain.

Di teras rumah itu, sebagian gambar dipajang. Foto-foto itu adalah karya anak-anak muda Amorfati 2, seperti foto Sultan Nuku, Sultan Zainal Abidin Sjah, Nenek Aminah Sabtu, maupun foto yang bertuliskan kata-kata sakral saat membaca tulisannya.

Para tetamu dihidangkan kopi dabe, lalampa, goboro, kue apang, serta rokok sek, korek api kayu yang selalu disediakan di atas meja, supaya terlihat betul-betul yang terlintas di generasi Tidore, itulah yang dipraktekkan di masa kejayaan dulu.

Namun bagi saya, inilah identitas tempo doeloe yang coba didesain dengan background rumah bambu beratap katu, pakaian dengan ciri khas kebaya yang agak ketuaan dan kain. Cerminan ini, mestinya diangkat sebagai kekuatan dan keanekaragaman di saat tetua terdahulu memakai sebagai aktivitas salat maupun melayani tetamu dari luar.

Dalam pandangan mata, anak-anak muda yang tergabung dalam komunitas Amorfati menyediakan rumah tempo doeloe yang didesain dengan bambu. Rumah tersebut terbuat dari bahan alam, seperti atapnya mengunakan daun sagu (katu), dinding terbuat dari bambu. Bahkan dilengkapi dengan penerangan lentera. Ada juga guci sebagai penanda, bahwa itulah salah satu bentuk peninggalan dari bangsa Spanyol.

Sebagaimana dalam event amal, Amorfati 2 mengangkat tema “Semalam di Tidore Tempo Doeloe”. Mereka mengusung tema ini, karena ingin mengajak orang-orang bernostalgia dengan Tidore masa lampau. Merasakan suasana, meresapi, dan memikirkan agar cinta untuk tanah ini tak pernah pudar.

Event Amorfati 2 berkolaborasi antara lain musik, puisi, bacarita Tidore, maupun bazar yang bertempat di Kelurahan Soasio tepatnya di kediaman almarhum Abang Mito pada Sabtu (26/12) malam.

Bintang tamu yang dihadirkan adalah Irfan Ahmad, Ko Meanz, Firau Tidore, Ai Son, D’facto, On Safril dan Helmizar, Astho Kalaodi, Rau Gabi, Feelhome, Anugrah dan kawan-kawan, Albughhadi, Atisa Syahbani Yunus, dan Yakub Husain selaku Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Tidore Kepulauan.