Oleh: Fahmi Djaguna

Dekan FKIP UNIPAS Morotai

________

KETIKA pentas budaya digelar dan tari-tarian lokal berpadu dengan denting tifa di bawah langit tropis Morotai, kita sesungguhnya tidak sedang menampilkan keindahan semata. Kita sedang menegaskan identitas. Morotai Festival 2025, yang akan diselenggarakan pada 18-20 Juli 2025 dengan tema “Merajut Keberagamaan, Melestarikan Budaya”, merupakan momen penting bagi kita untuk mengaitkan budaya dengan pendidikan dalam simpul pembangunan manusia yang utuh. Di panggung budaya, sesungguhnya tumbuh akar pendidikan.

Panggung yang Menyuarakan Pendidikan

Pendidikan, dalam pandangan Paulo Freire (1970) dalam Pedagogy of the Oppressed, bukan sekadar proses transfer ilmu pengetahuan, melainkan proses pembebasan. Kebudayaan adalah instrumen yang kuat dalam proses tersebut karena pendidikan memuat nilai-nilai, sejarah, dan identitas yang membentuk kesadaran kritis. Dalam konteks ini, Morotai Festival tidak sekadar sebuah perayaan. Morotai Festival adalah ruang pembelajaran yang hidup (living pedagogy), di mana generasi muda belajar dari warisan masa lalu untuk membangun masa depan.

Apabila kita menyimak pendapat Ki Hadjar Dewantara, pendidikan yang ideal adalah pendidikan yang mengakar pada kebudayaan bangsa. Dalam Pendidikan dan Kebudayaan (1962), Ki Hadjar Dewantara menyatakan bahwa pendidikan sejati harus menumbuhkan budi pekerti dan memperhalus perasaan. Festival budaya seperti Morotai Festival adalah wahana untuk mendekatkan peserta didik, generasi muda, bahkan pengambil kebijakan kepada akar kultural yang kerap dilupakan dalam sistem pendidikan formal.

Merajut Keberagaman: Pendidikan Multikultural di Tanah Bahari

Tema “Merajut Keberagamaan” pada Morotai Festival 2025 mencerminkan kenyataan sosial Morotai sebagai miniatur keberagaman Indonesia. Di sini, suku-suku yang berbeda hidup berdampingan: Tobelo-Galela, Buton, Sanger, Bugis dll. Dalam pandangan James Banks (2016), tokoh pendidikan multikultural, pendidikan tidak dapat dilepaskan dari konteks keberagaman. Festival ini menjadi contoh nyata implementasi kurikulum tersembunyi yang membentuk penghargaan terhadap perbedaan.

Di tengah isu global tentang polarisasi sosial dan homogenisasi budaya akibat arus informasi digital, Morotai Festival hadir sebagai “kontrapanggung” yang memperlihatkan bahwa keberagaman bukan ancaman, melainkan kekayaan yang dapat diajarkan, dirawat, dan dibanggakan. Sekolah-sekolah di Morotai seharusnya menangkap ini sebagai peluang untuk merancang kurikulum berbasis lokal (local content curriculum) yang tidak sekadar menjadikan budaya sebagai tema tahunan, tapi sebagai fondasi karakter.

Budaya dan Pendidikan sebagai Simfoni Pembangunan

UNESCO dalam dokumen Education for Sustainable Development Goals (2017) menegaskan pentingnya pendekatan interdisipliner antara budaya, pendidikan, dan pembangunan berkelanjutan. Artinya, panggung budaya bukan hanya arena ekspresi, tapi laboratorium sosial yang menumbuhkan kreativitas, dialog antarbudaya, serta kecintaan pada lingkungan dan sejarah. Di sinilah Morotai Festival dapat menjadi simbol simfoni pembangunan di perbatasan negeri; tempat budaya lokal membentuk manusia yang tangguh, adaptif, dan berakar.

Namun sayangnya, banyak festival budaya hanya berhenti sebagai kegiatan seremonial. Nilai-nilai yang ditampilkan seringkali tercerabut dari konteks pendidikan. Oleh sebab itu, Morotai Festival tahun ini harus dirancang secara partisipatif, melibatkan sekolah, komunitas lokal, lembaga adat, dan akademisi untuk menjadikannya sebagai wahana edukasi kultural. Setiap tarian, lagu, dan cerita rakyat yang ditampilkan, semestinya disertai dengan narasi sejarah dan nilai yang bisa masuk ke dalam kelas, ke dalam buku ajar, bahkan ke dalam riset ilmiah.

Catatan Kritis: Jangan Lepas Akar, Jangan Tinggalkan Sekolah

Dalam buku The End of Education (1995), Neil Postman memperingatkan bahwa pendidikan yang kehilangan narasi besar akan kehilangan maknanya. Festival budaya, apabila tidak dikaitkan dengan narasi pendidikan, hanya akan menjadi hiburan musiman. Karena itu, panggung budaya harus diintegrasikan dengan panggung sekolah, panggung kampus, panggung literasi.

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Daerah Morotai perlu menjadikan hasil dari festival ini sebagai bahan refleksi dan inovasi kebijakan. Misalnya, bagaimana budaya lokal bisa masuk dalam pembelajaran PPKn? Bagimana membuat kurikulum muatan lokal berbahasa Tobelo-Galela di sekolah Bagaimana pelajaran seni budaya tidak semata menggambar batik Jawa, tetapi mengenalkan motif tenun lokal atau makna ukiran rumah adat Morotai/Bangsaha. Bagaimana sejarah Morotai sebagai pangkalan Perang Dunia II dan rumah bagi para pejuang seperti Haji Achmad Syukur, Jacoeb Mnsoer, Antoni Ribok dan sampai Hi. Imam Lastori, yang diangkat sebagai narasi sejarah lokal dalam pelajaran sejarah nasional?

Merawat Warisan, Menumbuhkan Masa Depan

Morotai Festival bukan hanya panggung hiburan. Morotai Festival adalah akar yang menyentuh tanah pendidikan kita. Dan Morotai Festival adalah nyala obor peradaban yang menyatukan keberagaman dalam semangat kebangsaan. Jika budaya adalah cermin jiwa bangsa, maka pendidikan adalah cahaya yang menjadikannya terang.
Di panggung budaya, marilah kita tumbuhkan akar pendidikan. Agar generasi Morotai kelak bukan hanya penikmat tari-tarian, tetapi pewaris nilai, penggerak perubahan, dan pelanjut cita-cita leluhur. Karena pada akhirnya, bangsa yang besar bukan hanya yang melestarikan budayanya, tapi yang menjadikannya sumber belajar sepanjang hayat. Dan tarakhir mari rame-rame ke Morotai, untuk sukseskan Festifal Morotai. (*)