Lini serang Garuda juga tak akan alami perubahan. Witan Suleman dan Ragnar Oratmangoen bermain di sisi flank dan Rafael Struick jadi target man yang cair. Ini komposisi ideal Garuda. Saya meyakini STY punya banyak opsi secara taktikal untuk meredam agresifitas Australia dan berbalik menekan. Salah satu yang sudah terlihat saat laga melawan Arab Saudi adalah lini pertahanan yang sangat tinggi. Artinya, semua pemain terutama pemain depan akan berusaha merebut bola dan menutup celah distribusi saat bola berada di area pertahanan lawan.
Jangan memberi ruang untuk build up serangan lawan atau membiarkan lawan memegang bola terlalu lama. Strategi ini butuh kekompakan saat bergerak. Saat satu pemain mencoba merebut bola, pemain lain harus bergerak menutup pemain lawan yang bebas tanpa bola. Konsekuensinya adalah Indonesia butuh pemain yang siap secara stamina untuk terus bergerak dan berlari.
Di sinilah, sedikit kekurangan Indonesia mulai terekspos. Laga melawan Arab Saudi membuka mata kita bahwa ternyata di pertandingan level tinggi, Garuda hanya bisa bermain impresif selama 60-70 menit. Saat dilakukan pergantian pemain, runtuh pula skema permainan yang konsisten membuat Arab Saudi “mati langkah” di babak pertama. Ketika lawan mengubah taktik, para pemain yang baru masuk masih tergagap-gagap dan tidak tahu apa yang harus dilakukan.
Ini adalah poin perbaikan sebelum menghadapi lawan yang levelnya lebih tinggi macam Australia. Kualitas pemain utama dan cadangan juga masih jauh bedanya. Lihat saja ketika Rizky Ridho diganti dengan Ferrari, kita dibikin sport jantung dengan gaya main grasak grusuk ala Liga 1 yang diperagakan Ferrari dan membuat dia kena kartu kuning hanya dalam tempo 3 menit sejak dia masuk lapangan.
Saat Asnawi menggantikan Sandy Walsh di posisi bek kanan juga menimbulkan masalah. Asnawi punya power dan determinasi, tapi sering salah dalam hal positioning ketika bertahan dan agak kurang bagus dalam hal passing. Ini terbaca dengan baik oleh para pemain Saudi sehingga titik serangan mereka di babak kedua lebih sering ke sektor kanan Indonesia.
Lini tengah Garuda juga kehilangan roh sejak Thom Haye keluar. Tidak ada pemain yang bisa menguasai bola sekaligus mengatur ritme permainan sehingga ada pemain Arab Saudi yang bisa melakukan solo run sampai berhadapan langsung dengan kiper Maarten Paes. Hilangnya Haye membuat lini tengah Indonesia terdesak terlalu dalam dan serangan lawan tak berhenti mengalir ke jantung pertahanan Garuda. Masuknya Marselino dan Egy juga tidak banyak membantu. Marsel kian jauh dari performa terbaik karena kelamaan menganggur di Eropa, sementara Egy belum banyak berkontribusi bila tim kehilangan bola.
Di sektor depan, banyak yang bertanya kenapa Ramadhan Sananta tidak dimasukkan menggantikan Rafael Struick yang tampak sangat kepayahan? Orang yang daya analisisnya lemah pasti akan mengkaitkan hal ini dengan sentimen lokal dan naturalisasi, padahal menurut saya tidak demikian. Sananta tipikal finisher murni, dia tidak terbiasa mengganggu para bek lawan dengan pergerakan liar, sehingga ketika tim kehilangan bola, Sananta cenderung “hilang”.
Sedangkan Struick meski belum bikin gol tetapi selalu jadi orang pertama yang menganggu lawan saat memegang bola. Struick bahkan bisa turun jauh ke bawah. Penguasaan bola dan pergerakannya bikin Witan dan Oratmangoen jadi punya ruang yang lebih besar untuk bikin gol.
Australia sekali lagi bukanlah lawan yang mudah. Tapi kita tak salah jika optimis bisa meraih kemenangan. Kuncinya ada pada kerja sama tim. Bermain dengan percaya diri dan bertindak satu hati. Di tribun GBK, ada 70 ribu suara berisik yang mendukung Garuda sekaligus mengintimidasi lawan. Dengan itu, rekor 43 tahun tanpa menang sepertinya akan terhenti malam ini di GBK. Saatnya memberikan yang terbaik. (*)


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.