Ini pertama kalinya dalam hidup saya melihat jenazah yang dimumifikasi. Terpana dan takjub. Di depan sana bukan sosok biasa. Ia seorang pemuka agama sekaligus pendiri kota yang kini berusia 4 abad. Jenazah sang uskup sendiri telah berusia 337 tahun.

Meski tak dimakamkan secara konvensional, ada pula lempengan prasasti dari makam Uskup Wierzbowski. Awalnya, lempengan ini terletak di Bukit Kalvari di gereja paroki Salib Suci, tempat pendiri kota itu dimakamkan pertama kali setelah kematiannya yang tiba-tiba pada 7 Maret 1687. Lempengan batu pasir itu disiapkan saat uskup masih hidup. Ia memerintahkan agar lempengan itu dipahat dengan tulisan “Tuhan, engkau telah mengampuni penipu yang disalibkan bersamamu, maka ampuni juga aku yang dikuburkan di sini”.

Jenazah Uskup Wierzbowski bukan satu-satunya hal berharga di gereja Exaltation of The Holy Cross. Ada pula peninggalan Salib Suci dan pieta lilin, sebuah patung yang mungkin berasal dari abad ke-16 (milik raja Polandia dari dinasti Vasa). Patung itu menunjukkan Yesus dan ibunya, di mana rambut Yesus dibuat menggunakan rambut manusia asli.

Wakil Wali Kota Gora Kalwaria (kanan) menunjukkan pieta lilin, artefak berharga gereja Peninggian Salib. (Tandaseru/Ika Fuji Rahayu)

Tempat suci kedua yang kami kunjungi adalah Marianki Cenacle atau Gereja Perjamuan Tuhan. Gereja ini didirikan oleh Santo Stanisław Papczyński. Papczyński (18 Mei 1631–17 September 1701), lahir dengan nama Jan Papczyński, adalah pastor Katolik Polandia yang mendirikan Marians of the Immaculate Conception, ordo religius Polandia pertama untuk pria. Sebelum memulai ordonya sendiri, ia menjadi anggota Ordo Piarist. Papczyński secara luas dikenang sebagai penulis religius yang produktif, tulisan-tulisannya mencakup karya-karya seperti The Mystical Temple of God.

Di dalam gereja terdapat lukisan barok Perawan Maria dengan Anak (paruh kedua abad ke-17) dan sarkofagus dari abad ke-21 dengan jenazah Santo Papczyński. Di depan gereja terdapat monumen Santo Papczyński karya Andrzej Koss dari tahun 1985.

Marianki Cenacle. (Tandaseru/Ika Fuji Rahayu)

Gereja tersebut dikelilingi taman yang asri. Di taman sekitarnya, terdapat Stasiun Salib yang terdiri dari 15 kapel batu yang diukir oleh H. Grocholska dari pertengahan abad ke-19. Ada pula altar lapangan di taman belakang, serta museum Santo Papczynski yang dibuka pada tahun 2014.

Santo Papczynski dibeatifikasi oleh delegasi khusus Paus Benediktus XVI –Kardinal Tarcisio Bertone, Sekretaris Negara Takhta Suci, pada 16 September 2007 di Kuil Marian di Lichen. Beatifikasi (dari bahasa Latin beatus, “diberkati” dan facere, “membuat”) adalah pengakuan yang diberikan oleh Gereja Katolik atas masuknya orang yang telah meninggal ke Surga dan kapasitas untuk menjadi perantara bagi orang-orang yang berdoa atas nama mereka. Mereka diberi gelar “Yang Diberkati”. Papczynski, oleh Paus Benediktus XVI, disimpulkan telah mempraktikkan kebajikan teologis berupa iman, harapan, dan kasih, kebajikan utama berupa kehati-hatian, keadilan, kesederhanaan, dan ketabahan, serta kebajikan-kebajikan lain yang terkait dengan semua ini, hingga tingkat yang heroik.

Monumen Santo Papczyński karya Andrzej Koss. (Tandaseru/Ika Fuji Rahayu)

Proses beatifikasi Santo Papczynski sendiri memakan waktu yang amat panjang, yakni dimulai sejak 1767, terhenti pada 1775, dan dibuka kembali pada 1953. Tulisan-tulisan rohaninya disetujui oleh para teolog pada 22 Juli 1775. Namun karena waktu yang begitu lama telah berlalu sejak kematiannya, proses ini harus diselesaikan secara “historis”, yang berarti bahwa dokumen-dokumen harus dicari untuk kesaksian-kesaksian tentang kehidupan dan kebajikan-kebajikannya. Dokumen-dokumen tersebut dipersiapkan dan dikumpulkan dalam sebuah manuskrip setebal 1.000 halaman yang disebut “Positio”.