Menurut Rico, proses pencampuran cairan bijih nikel dan asam sulfat di dalam autoclave berlangsung sekitar 1 jam. Pada tahap ini, cairan tersebut juga diproses dengan memberi tekanan sebesar 50 Bar.

Setelah proses leaching selesai, cairan nikel kemudian keluar dari autoclave dan diturunkan suhunya pada tangki-tangki produksi yang ada.

“Setelah suhu cairan nikel turun pada level yang ditentukan, proses dilanjutkan dengan pengendapan untuk memisahkan nikel dengan kandungan mineral lain seperti besi dan alumunium,” jabarnya.

Secara paralel, terdapat juga proses peningkatkan kadar keasaman cairan nikel. Hal ini dilakukan dengan cara mencampurkan cairan tersebut dengan batu gamping atau limestone agar tingkat keasamannya mencapai pH ke sekitar 5.

“Tingkat keasaman cairan nikel yang keluar setelah proses leaching pada autoclave itu baru sekitar pH 1,5,” jelas Rico.

Setelah tingkat keasaman yang diinginkan tercapai, cairan tersebut kemudian ditambahkan dengan natrium hidroksida. Kemudian, cairan tersebut akan kembali diendapkan agar mendapatkan elemen nikel dan kobalt.

Rico mengatakan, hasil dari campuran cairan nikel dan natrium hidroksida tersebut kemudian dimasukkan ke dalam mesin press dan dicetak. Hasil cetakan tersebut merupakan produk antara dari proses HPAL yang bernama Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) dengan kadar nikel sekitar 40%, kobalt sebesar 4-5%, dan sisanya merupakan kandungan air.