Memang banyak variabel yang terbilang rumit untuk diurai jika telah sistemik. Dalam batas tertentu, perguruan tinggi juga tak sepenuhnya bersalah. Saya percaya, orang-orang cerdas di lembaga itu, pasti memahami apa filosofinya, bahwa pendidikan itu harus terjangkau untuk semua kalangan. Dia adalah bentuk perlakuan keadilan bagi sebuah negara merdeka. Bukan kurikulumnya saja yang merdeka tapi warga negaranya “tidak merdeka” mengenyamnya.

Orang itu perlu cerdas, sebagai mana dia perlu sehat, yang karena alasan itu, pemerintah perlu memberi porsi anggaran yang cukup untuk mengelolanya bagi institusi-institusi di bidang pendidikan dan kesehatan sebagai bagian dari tugas pelayanan dasar bagi warga negara.

Beberapa waktu lalu di sebuah WAG, seorang teman mengomentari sebuah berita media soal prospek pendidikan kedokteran dengan mengatakan bahwa profesi ini tak lagi “menterang”. Maksudnya, biaya studi yang begitu mahal, tak bisa lagi “kembali modal” dalam sekejap. Saya jadi sensitif dengan pandangannya, yang ternyata ikut memelihara “mindset komersialisasi”, dan saya ikut menanggapinya. Dia mungkin telah lupa bahwa tak semua orang punya misi yang sama, yang dipikirkannya. Dia tak lagi berpikir bahwa mungkin dengan latar pendidikan hingga profesinya kelak, ada tetangga atau bahkan orang fakir bisa terbantukan di saat-saat mendesak dan kritis. Ada misi kemanusiaan hingga meniatkan untuk ibadah, dia tak berpikir begitu, meski dia seorang yang sangat terpelajar dan berpengalaman. Dia lupa bahwa di saat pandemi Covid-19 lalu, Kementerian Kesehatan hingga mengakui bahwa rasio tenaga kesehatan dokter dengan jumlah pasien yang harus ditanganinya menjadi sangat timpang. Bahkan hingga ada usulan mempercepat lama studi bagi calon-calon dokter yang sedang berkuliah. Artinya, kita hanya berpikir impact sesuatu profesi itu dalam kondisi normal, dan ketika diserang wabah mendadak, faktanya kita kelimpungan.

Secara filosofis, orang perlu cerdas, sebagaimana dia perlu sehat, adalah untuk memaksimalkan potensinya sebagai khalifah, sebagai makhluk Tuhan di muka bumi, yang dinisbatkan kepadanya harkat, derajat, martabat dan harga diri, yang membedakannya dengan makhluk Tuhan lainnya. Tuhan menjanjikan mengangkatnya beberapa derajat bagi orang beriman dan berpengetahuan. Memperlakukannya tak sekehendak maksud Tuhan, bisa dipandang mengingkari perintah-Nya.

Kesadaran tentang keagungan potensi ilahiah yang melekat padanya memungkinkan manusia memaksimalkan tugas kekhalifahannya, memakmurkan kehidupan di muka bumi.

Kita tak bisa menganggap benar bahwa sesama makhluk Tuhan dan punya potensi ilahiah yang sama, harus berbeda kesempatan memaksimalkan potensi kekhalifahannya tadi karena gara-gara yang satunya berpendidikan cukup dan yang lainnya tidak. Sama seperti yang kita sepakati bahwa kemiskinan bisa mendegradasikan potensinya sebagai makhluk Tuhan yang paling mulia. Kita tahu apa arti kemuliaan makhluk Tuhan yang bernama manusia itu. Jika kita “mengenal diri”, kita pasti memahami, menyadari hingga menempatkannya pada maqam kemanusiaan yang tinggi, pada orang kurang waras dan gila sekalipun.

Saya jadi memahami, beberapa sosok tertentu yang ketika menjadi kepala daerah, begitu bersemangat memprioritaskan program pendidikan dan kesehatan gratis bagi warganya dikategorikan tertentu dan berbagai jenis subsidi lainnya. Tak semata-mata karena berharap ada efek elektoralnya. Saya percaya, mereka paham filosofi hingga mungkin maksud Tuhan tadi.

Sebagaimana banyak orang tua, saya khususnya dan juga sang istri serta si bungsu Dian Shafa, merasa haru dan tak kuasa meneteskan air mata di momentum wisuda sarjana kedokteran Saffanah pagi tadi di sebuah hotel berbintang cukup terkenal di Makassar itu.