Mengutip informasi dari media Mongabay, Yahya mengatakan baliho-baliho menyebabkan terjadi polusi visual atau mengganggu keindahan suatu kawasan kota dan berdampak negatif. Misalnya pesona keindahan kehilangan daya tarik, hilangnya kekhasan suatu kawasan kota, meningkatkan budaya konsumtif, gangguan media seperti stres, sakit kepala dan membahaya keselamatan pengendara karena mengganggu konsetrasi.
Dari segi lingkungan, menggunakan laporan Forrst Digest, Yahya menjelaskan baliho kampanye turut menghasilkan emisi karbon cukup besar. Sebab baliho mengandung bahan kimia berasal dari pengolahan minyak bumi yang biasanya digunakan membuat plastik.
“Berdasarkan berhitungan, jika 1×1 meter baliho beratnya 300 gram, maka emisi karbon dihasilan 1 kilogram setara Co². Saat menjadi sampah, baliho hasilkan gas rumah kaca yang berbahaya saat mengotori atmosfer,” terangnya.
Pada kesempatan ini, Yahya tak luput mengajak masyarakat membangun budaya politik dengan merawat demokrasi sekaligus merawat lingkungan.
“Bangun politik dengan akal sehat,” tandas Yahya.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.