Sementara di sektor pendidikan informal, kata Yahya, pihak kelurahan dan organisasi pemuda dapat memanfaatkan mahasiswa untuk mengajarkan pendidikan ramah lingkungan di kelurahan. Misalnya memanfaatkan mahasiswa KKS, KKN dan atau menyurat kepada organisasi kemahasiswaan untuk mengajarkan anak-anak tentang pendidikan lingkungan.
Ketiga, Yahya bilang sebagai caleg yang paling penting adalah memahami sumber masalah yang dihadapi masyarakat. Untuk memecahkan suatu masalah dibutuhkan riset serius yang kemudian direkomendasikan kepada pemerintah dan tugas dewan adalah mengawalnya hingga diakomodir. Apabila pemerintah tidak mengakomodir, maka, dewan dapat menggunakan hak vetonya dan tidak mengesahkan APBD.
“Yang keempat, kita para caleg juga harus melakukan pendidikan politik pada masyarakat demi untuk menciptakan pemilih yang cerdas. Tetapi, selama ini yang saya amati justru para caleg mengganggap masyarakat seperti barang murahan yang dapat dibeli suaranya dengan uang senilai dua ratus ribu rupiah. Bagi saya, ini merendahkan martabat manusia karena ketika mereka menduduki kursi kekuasaan, maka yang dilakukan adalah mengembalikan biaya pemilu (modal) dan akhirnya kepentingan masyarakat diabaikan,” tegasnya.
“Praktik politik seperti ini sangat berbahaya untuk demokrasi kita. Karena politik dipandang sebagai transaksi dagang dan merusak mental generasi kita ke depannya. Merusak dalam artian bahwa politisi kita mengajarkan generasi berwatak korupsi. Inilah mengapa pentingnya meningkatkan kesadaran, perubahan sikap dan perilaku masyarakat manusianya,” tandas Yahya.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.