MTQ atau STQ saat ini juga tak lebih dari panggung serimoni yang berkelindan dengan kepentingan politik. Dia jadi semacam lomba entertainment yang tak punya “ghirah”. Secara internal, lomba ini juga makin rancu karena tak lagi bebas dari titipan sana-sini. Dewan Hakim misalnya, tak lagi obyektif menilai tetapi cenderung membela daerahnya. Juara ajang ini kadang sudah diketahui sebelum lomba berakhir.

Jika di hilir, ajang seperti ini makin kehilangan pengaruhnya dalam konteks syiar Islam, kondisi yang sama juga terjadi di bagian hulu. Pondasi membaca Al Quran tak lagi kokoh. Banyak TPQ yang menyisakan gedungnya saja. Di Tidore misalnya, ada sekitar 200an TPQ yang tersebar di berbagai kelurahan dan desa, tapi data dari Pemkot menyebut hanya 40an yang masih aktif. Artinya minat belajar membaca Al Quran makin menipis. Di Ternate juga sama. Gedung Tasbaq di Sango sudah lama tak digunakan. LPTQ hanya tinggal nama.

MTQ atau STQ kalah pamor dengan konser musik. Generasi muda lebih nyaman bermain tik-tok. Al Quran bukan lagi sesuatu yang wajib dibaca. Rutinitas harian di TPQ, Pangaji, dan mesjid kini bergeser jadi tahunan. Kitab suci yang jadi pedoman satu-satunya untuk ber-amar ma’ruf nahi mungkar ini hanya ramai dibaca saat bulan Ramadhan. Kita makin amnesia dengan tugas utama sebagai manusia yang memimpin peradaban.

Di titik ini mari mengingat Ali Imran ayat 110 ; masihkah kita adalah kuntum khaira ummatin ukhrijat linnaasi?

Ciputat yang basah, 6 Januari 2024.