Dengan gelar Qoriah terbaik se-Indonesia, Djihadiah kemudian diminta bersiap untuk ajang Internasional. Ismiyati tak ikut karena kategori anak-anak tak dilombakan. Hasan Basri tetap jadi pelatih. Ibrahim Muhammad diminta jadi pendamping karena kafilah butuh orang yang menguasai bahasa arab. Dan sejarah mencatat Indonesia jadi yang terbaik. Djihadiah mengalahkan peserta dari 42 negara. Menteri Agama saat itu, Said Agil Munawar tersenyum sumringah.

Banyak yang tak percaya juara dunia itu berasal dari Tidore. Orang ramai mengira Djihadiah mewakili Sumatera atau Sulawesi. Pemda Maluku Utara menyiapkan penyambutan besar-besaran untuk Qoriah Internasional ini. Hadiah ratusan juta rupiah diberikan oleh Gubernur Thaib dan perangkat daerah. Pemda Halmahera Tengah memberikan sebuah rumah. Djihadiah kemudian diundang ke berbagai negara.

Ketika menyambangi rumahnya di bilangan Goto Tidore, saya mendengar banyak sekali cerita tentang perjuangannya yang tak mengenal menyerah. Perempuan hebat ini berbagi kiat suksesnya kala itu. Ia mengaku sangat disiplin dan bertanggungjawab. Selama mengikuti lomba, sangat jarang Ia keluar dari kamar hotel. Kesehariannya habis untuk berlatih. Ia juga menjauhkan hati dari rasa “takabur” meski para pelatih meyakini dirinya akan juara. Kedua kiat ini tak lagi ditemui saat ini saat MTQ atau STQ digelar di berbagai tingkatan.

Saat ini MTQ atau STQ bukan lagi prioritas. Beberapa cerita memilukan saya dengar dari peserta atau pendamping. Kadang jumlah kafilah yang akan mengikuti lomba tingkat nasional dikurangi karena alasan keterbatasan dana. Uang saku peserta juga seadanya. Mereka berlatih tanpa fasilitas yang memadai. Tak ada pemusatan latihan. Para pelatih bahkan rela melatih tanpa diberikan imbalan. Kondisi ini berbeda jauh dengan beberapa tahun lalu saat ajang ini jadi sesuatu yang prestisius. Saat saya kecil, MTQ ibarat lebaran. Jalanan di aspal ulang. Pagar rumah-rumah dicat. Para kafilah dari berbagai daerah disambut dengan riang gembira. Syiar Islam bergelora.

Saya tak tahu apakah mars MTQ yang dulu sering kami nyanyikan dengan mata berbinar itu masih ada. Adakah anak-anak yang menghafal lagu itu – lagu yang sering diputar di radio-radio saat MTQ berlangsung di suatu daerah.

Gema musabaqah tilawatil Quran
Pancaran Ilahi
Cinta pada Allah, Nabi dan Negara
Wajib bagi kita

Faktor lain yang membuat kita tertinggal adalah minimnya pemahaman akan substansi lomba. Tilawah misalnya tak hanya soal keindahan tetapi juga bagaimana memahami latar belakang turunnya sebuah ayat, bagaimana agar “pesan” dari ayat yang dibacakan sampai ke publik, mengetahui dengan tepat kapan penggalan sebuah ayat digunakan dan juga mengoptimalkan “maqro” yang diberikan sebelum memulai tilawah.