Diah kecil tumbuh dalam suasana religi itu. Ia kemudian bertekad untuk mengikuti jejak kakak-kakaknya. Diah belajar secara otodidak. Dia mengikuti lafadz tilawah yang ditonton saat Maria Ulfa atau Muammar ZA – keduanya juara MTQ Internasional – tampil di televisi. Kadang Ia mengikuti tilawah yang terdengar dari corong mesjid. Saat berjalan, ketika ada tilawah yang merdu, Diah berhenti. Tak hanya mendengar, Ia merekam suara-suara itu dengan tape sonny kecil pemberian kakaknya – Siti Jenar. Sebelum tidur, Diah mendengar ulang rekamannya. Memahami bagaimana an naghom fil Quran dilakukan dengan baik.

Guru pertama untuk perkara membaca Al Quran dengan lagu yang benar didapat Diah saat bersekolah di Madrasah Tsanawiah di Douwora Tidore. Adalah uztad Idris Kaidati yang melihat potensi besar punya Diah dan memilih melatihnya secara serius. Kadang kakaknya Siti Jaura ikut membimbing di rumah. Diah sempat mengikuti lomba MTQ tingkat propinsi untuk kategori anak-anak dan jadi juara III. Dari situ, Ia dikirim ke Lampung untuk mengikuti MTQ Nasional. Ia mendapat juara harapan I. Pulang dari Lampung, Ia makin fokus berlatih.

Delapan kali Diah bolak-balik mengikuti MTQ namun selalu gagal jadi yang terbaik. Tahun 1995, Diah malah menyeberang ke Papua dan mewakili propinsi itu di level nasional. Tahun itu, sang papa berpulang saat Diah tak ada di rumah. Setelah dua tahun merantau ke Papua, Diah kemudian balik ke Tidore. Tahun 2002, kala Ia tengah berjuang di arena MTQ Nasional di Mataram, mama tercinta dipanggil pulang oleh Allah. Semacam déjà vu. Kehilangan kedua orang tua saat berlomba jauh di negeri orang. “Mama adalah perempuan hebat dan sederhana yang selalu ada saat kami butuh, mama selalu ingatkan saya untuk tak makan yang pedas, banyak istirahat, fokus berlatih dan jangan pernah melupakan Allah”.

Tahun 2003, Diah kembali terpilih jadi duta Maluku Utara. Kali ini persiapannya lebih matang. Thaib Armaiyn yang baru terpilih jadi Gubernur Maluku Utara turun tangan. Dua guru vocal didatangkan dari Jawa. Hasan Basri dan Nasrullah Jamaluddin. Semua peserta menjalani pemusatan latihan di Hotel Indah Ternate. Selama sebulan mereka rutin berlatih. Sesekali Gubernur Thaib datang menjenguk. Berbincang dengan semua peserta. Makanan dikontrol. Semua fasilitas diberikan.

Menurut Uztad Ibrahim Muhammad, perhatian Gubernur adalah faktor kunci yang membuat delegasi Maluku Utara sukses besar di ajang MTQ Nasional di Palangkaraya Juni tahun 2003. Djihadiah Badar meraih juara pertama kategori dewasa. Ismiyati Asrakal menyabet juara pertama untuk kategori anak-anak. Kemenangan yang disambut dengan banyak sukur karena Maluku Utara belum sepenuhnya pulih dari konflik. Di Ternate dan Tidore, kedatangan para kafilah disambut dengan arak-arakan.

“Saya jadi saksi bagaimana kepedulian dan apresiasi yang diberikan pak Thaib. Sangat luar biasa. Saat ini sosok seperti itu tidak lagi ada, kadang peserta pulang lomba – juara atau tidak juara – bahkan tidak disambut padahal mereka membawa nama Maluku Utara”. Ibrahim menyebut minimnya perhatian pemerintah daerah membuat prestasi Djihadiah dan Ismiyati akan sulit terulang.