Bayyati-nya menggetarkan. Irama bayyati yang ditandai dengan suara yang lembut meliuk-liuk memiliki gerak lambat dengan pergeseran yang tajam waktu turun-naik. Pergeseran itu kadang terjadi secara beruntun. Diah menguasai benar an naghom fil Quran. Intonasi suaranya kadang mendayu dengan “khoror” – suara rendah yang menghipnotis, lalu berpindah ke “nahwa” yang berirama sedang, balik lagi ke rendah atau tiba tiba melengking indah dengan “jawwab” yang tinggi dan “jawwabul jawab” yang tinggi sekali. Dulu, variasi langgam ini biasanya ditambah dengan “syuri” dan “tahwil”.

Dan Diah melewati semua tantangan itu dengan sempurna. Dua belas orang dewan hakim dari berbagai negara terpesona. Langit di atas ibukota Malaysia ikut tersenyum. Ketika dirinya berjalan melewati meja para penilai, seorang dewan hakim asal Syiria menatap tak percaya. Dia bertanya kepada Uztad Nasrullah Jamaluddin – dewan hakim dari Indonesia ; Benarkah perempuan bertubuh kecil ini yang tadi tampil dengan suara yang begitu menggetarkan? Dirinya membayangkan perempuan yang mentilawahkan surah Ali Imran tadi bertubuh tinggi-besar.

Nasrullah hanya tersenyum. Sejak pertama kali melatih Diah, ia tahu jika anak asuhnya punya kekuatan vocal yang sangat kuat. Karakternya teruji. Diah sangat disiplin selama latihan. “Ini mutiara Tidore yang mesti dijaga. Jika punya kesempatan Diah tak hanya juara nasional tapi sangat mungkin menjadi yang terbaik di dunia”. Begitu ucapan Nasrullah saat Diah jadi Qoriah juara nasional MTQ di Palangkaraya.

Feeling Nasrullah terbukti. Semua dewan hakim memberi nilai tertinggi padanya. Diah jadi juara I MTQ Internasional. Qoriah terbaik yang mengharumkan nama Indonesia. Sebuah prestasi tertinggi dari sosok sederhana yang sejak awal bermimpi ada di event itu. Yang terus berlatih tanpa jeda. Saat Perdana Menteri Tun Abdullah Ahmad Badawi dan Yang di-Pertuan Agong Malaysia Tuanku Syed Sirajuddin bin Tuanku Syed Putera Jamalulail memberinya ucapan selamat disertai plakat juara dan hadiah, airmata Diah merintik di antara senyum bahagia. Ia ingat kedua orang tuanya, kakak-kakaknya, para guru dan pelatih serta mereka yang selalu hadir memberi dukungan.

Djihadiah Badar adalah bungsu dari delapan bersaudara –anak dari pasangan Badar Mahifa dan Maha Mahifa. Badar seorang petani yang ulet. Sosok papa yang jadi guru mengaji pertama Diah bersama kakak-kakaknya di rumah. Nyaris saban waktu, Badar selalu melantunkan ayat-ayat suci Al Quran. “Papa hanya ingin semua anaknya tahu mengaji. Tak ada perintah agar kami ikut lomba tilawah”.

Meski begitu, sebagian anak-anaknya ikut lomba. Ada Sahab, Maruf, Abdurahman dan Siti Jaura. Beberapa jadi juara di level kabupaten lalu ikut tingkat propinsi. Setiap anak-anaknya akan bertanding, Badar selalu mengeluarkan kain songket terbaik. Kain yang ia simpan –mungkin ini harta paling berharga di rumah yang sederhana itu. Ada juga jas yang ia sewa entah darimana. Saya membayangkan kebanggaan seorang papa ketika melilit kain dan memasangkan jas untuk anak-anaknya yang akan berlomba melantunkan ayat-ayat suci Al Quran.