Jokowi “setara” dengan Soekarno, bahkan lebih, sebab Soekarnoisme lahir pasca bung Karno wafat, sementara Jokowisme muncul saat Jokowi masih hidup. Patung Soekarno dibangun jauh setelah sang Proklamator mangkat, sementara patung Jokowi kini dibangun di desa kecil, jauh dari ibukota, saat Jokowi masih sibuk menilai sinetron dan drama politik. Satu-satunya drama dan sinetron politik yang saatnya dihentikan, tutup buku adalah drama politik KTA PDIP Gibran dan Bobby. Sebab drakor tersebut tidak penting dan tidak menggugah perasaan rakyat.
Persoalan KTA sejatinya urusan rumah tangga PDIP dan kadernya, bukan urusan publik. Jika sudah jelas terjadi pelanggaran aturan dan ketentuan partai, Gibran dan Bobby dapat diberi sanksi dari sanksi terendah hingga tertinggi, dipecat. Dan jika sudah dipecat, tidak perlu lagi ada drama pengembalian KTA, sebab KTA tersebut dapat dijadikan penanda kenangan. Atau sewaktu-waktu diaktifkan atau digunakan kembali seperti para kader yang pernah dipecat, namun kini aktif jadi caleg PDIP.
Mari terus bermain politik riang gembira dengan drama dan sinetron terbaik demi citra sederhana. Untuk meraih perasaan rakyat dengan semua suka dukanya, dengan semua beban-bebannya. (*)


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.