Mestinya, ada kesadaran publik Maluku Utara modern, penyebutan ini sebagai upaya mencoret kultur “tabea” kepada kekuasaan yang dianggap lebih santun, saleh dan tidak korup. Publik Maluku Utara modern ialah masyarakat yang dihidupkan oleh rasionalitas politik, mengedepankan jiwa kritis, dan lebih canggih cara pandangnya, serta berani menolak rayuan kelompok pro oligarki.

Karena itu, menguatnya neo-despotism dan mata rantai trah politik abal-abal yang terwariskan secara temurun telah menjadi catatan harian yang harus kita sobek. Caranya sederhana, setop memuji kegagalan demi kegagalan mereka menavigasi Maluku Utara selama ini. Daerah ini dimekarkan bukan merekahkan pemimpin yang despot, tetapi semua harus sejahtera, semua harus setara. Ngana, kita, torang samua(*)