Melampaui Identitas

Mungkin kita harus pergi berjelajah dalam ruang perpustakaan milik John Rawls. Setidaknya muncul hasil eksperimentasinya tentang “original position.” Rawls telah mongkonseptualisasikan bahwa setiap individu itu serupa. Yang dimaksud Rawls entah serupa wajah, warna kulit, orientasi seksual atau etnis maupun agama. Karena di sini, Rawls menekankan pada pelepasan semua identitas, maupun preferensi terhadap hal tertentu, agar dapat membuat suatu keputusan yang rasional dalam bernegara (Rawls, 1971).

Memang rasionalitas hanya dapat dicapai ketika kita tidak harus tunduk dan patuh pada orang secara pribadi maupun kelompok tertentu. Tidak menjadi hamba bagi manusia lainnya hanya karena jubah keagamaan maupun pernak-pernik kesukuan yang melekat dan menjadi simbol. Rasionalitas akan menjadi “kuasa baru” dan mengakrabkan sistem kewarganegaraan satu sama lain, menunjukkan kepada kita tentang kesetaraan dan keadilan dalam demokrasi. Mengembalikan hak tiap-tiap warga negara kepada posisi aslinya (original position) sebagai manusia yang merdeka, yang enggan masuk dalam ruang kotor bernama politik identitas.

Karena itulah, rasionalitas dapat menjadi instrumen untuk melompat jauh melampui politik identitas. Sebab, menerima hasil dari transaksional identitas agama maupun etnis, secara tidak langsung telah menjadi spesies yang diproduksi oleh struktur yang menindas. Identitas agama maupun etnis memang sesuatu yang mulai melekat di tiap kelompok. Tapi identitas itu bukan diperdagangkan untuk kepentingan segelintir orang dalam satu kelompok. (*)