Kritikan terhadap pembangunan di Kota Ternate, lanjut komika jebolan Kompas TV ini, lewat konten yang dibuat tanpa ada sentimen apapun.

“Semua benar-benar lahir dari keresahan kami sebagai masyarakat Kota Ternate. Jadi semua konten itu kami buat mulai dari Pelabuhan Hiri, Stadion Gelora Kie Raha, tempat sampah, sampai Gamalama Plaza. Semua murni keresahan kami terhadap pembangunan di Kota Ternate, itulah cara kami mengkritisi kebijakan melalui dunia stand up komedi,” ujarnya.

Sementara mantan Ketua IKPM Malut Jogjakarta M Adha menegaskan pada prinsipnya revitalisasi pemuda di era post truth adalah bagaimana pemuda memiliki kemampuan menganalisis fenomena saat ini dengan bermodal literasi, terutama literasi digital. Karena di era serba cepat dengan muatan teknologi yang begitu berkembang, pemuda harus lebih cakap lagi dalam mengonsumsi informasi.

“Lagi-lagi literasi sangat penting, agar tidak terjadi bias pengetahuan,” ungkapnya.

Sementara entrepreneur yang juga owner Sinar Gemilang Rizki Suhri memfokuskan pada bagaimana pemuda berkolaborasi.