Tak kalah penting juga adalah tahun 1980 sudah mulai membentuk kelompok remaja hingga tahun 1993 mendirikan Teater Anak Bangsa di Maluku Utara. Selain menulis puisi, ia juga sudah memeras otak dalam menulis teater hingga kini. Ia juga terus mengkampanyekan karya sastra di beberapa daerah ada di Maluku Utara melalui pembinaan membaca puisi di sekolah, kampus, kampung/desa, masyarakat desa, instansi atau lembaga dan swasta dan lain-lain.
Dalam hal teatrikalisasi puisi atau mementaskan puisi, Zainuddin M. Arie harus membuat naskah sendiri atau naskahnya ditulis sendiri. Karena harus sesuai kebutuhan daerah di Maluku Utara, harus setara kemampuan pemain (anak-anak, remaja mahasiswa), sesuai misi Teater Anak Bangsa dan sesuai stylenya yang otodidak.
Ayah Arie ibarat petani bertangan dingin yang selalu memanfaatkan waktu menanam beberapa keterampilan berkesenian agar anak-anak Maluku Utara bersentuhan dengan dunia seni pertunjukan. Saat studi di Bandung Ayah Arie membidani lahirnya kelompok seni bernama “Tawala” sebutan kata yang berdekatan bunyi dengan jenis topi atau tutup kepala khas Moloku Kie Raha. “Tawala” yang bermarkas di Asrama Mahasiswa Maluku Utara itu, memulai debutnya dengan mementaskan “Risalah Zaman Berzaman” naskah/sutradara Zainuddin diperkuat oleh mahasiswa dan pelajar Maluku Utara dalam HIPMMU Bandung tahun 2010-2012. Pementasan dilaksanakan di Bandung, dan Asrama Haji Pondok Gede Jakarta.
Begitulah serba sedikit eksistensi, kiprah dan jalan karya seorang Zainuddin. Mengapa saya memakai narasi penggila sastra? Suatu kesempatan saya bertemu dengan Ayah Arie di kampus Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unkhair dimana ada momen membaca puisi bersama dosen dan mahasiswa, masih tersimpan di ingatan saya, pernah berkata kita ini penggila sastra, terbukti saat membaca puisi dengan ekspresi, penghayatan mendalam hingga merobek kertas yang ia pegang, berteriak dan merangkak di lantai.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.