Majalah terbitkan tahun 2013 silam tersebut mengulas berbagai puisinya bahkan ada karyanya sudah tembus go internasional, puisinya berjudul “Lelangkah Lelaki Alam ” bercerita sepak terjang Alfred Russel Wallace selama berada di Jazirah Al-Mulk.
Pada tanggal 2 Desember tahun 2008 dilaksanakan Pra Simposium Letter From Ternate Conference On Alfred Russel Wallacea, kerjasama Pemerintah Kota Ternate dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Pada moment bergengsi dengan skala internasional itu, Ayah Arie diminta oleh Direktur Yayasan Danau Indonesia agar sudi menciptakan karya sastra puisi tentang sepak terjang Wallace terutama saat berada di Ternate 150 tahun silam.
Tak butuh waktu lama, ia pun menulis tiga puisi yakni “Inilah Surat Dari Ternate”, “Secuil Tanda, Amatlah Banyaknya” dan “Lelangkah Lelaki Alam”. Dari ketiga puisi karyanya, puisi “Lelangkah Lelaki Alam” terpilih sebagai karya untuk dibacakan dalam international Simposium Letter From Ternate Conference On Alfred Russel Walacea And The Wallecea di Makassar. Memperingati 150 tahun Alfred disaksikan kurang dari 300 ilmuwan sains seluruh dunia.
Demi kepentingan negeri (Maluku Utara) dan tanah air Indonesia, Zainuddin M. Arie bersedia menghibahkan puisinya untuk kepentingan ini. Puisi ini kemudian bersama Mahdi “Ipenk” Ahmad, di sebuah gudang jalan Mononutu, dialihbahasakan ke dalam bahasa Inggris menjadi “Steps of The Nature Man” agar dapat berterima bagi para ilmuwan yang hadir ataupun mereka yang belum sempat hadir. Pada salah satu larik puisi ini kalimat dalam bahasa Ternate,” toma fala na nena tosidagi ri futu sewange toma sanang madaha“. Secara imajiner, kalimat ini seolah mengekspresikan betapa senangnya Wallace tinggal di kaki Gamalama, hingga menemukan teori evolusi, survival of the fittest yang bikin Darwin di Inggris terpana.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.