Olehnya itu, sejak sepeninggal Asy, sanggar ini langsung mengemas kisah kematiannya dalam sebuah teatrikal puisi, meme po sinyinga, yang telah dipentaskan sebelumnya saat kegiatan Moro Tarian Show.

“Tarian ini diangkat langsung dari kematian nenek kami di kebun. Kami buat tarian ini diciptakan cuma satu hari saja, jadi tarian ini bentuk mengungkapkan rasa sakit saja,” pungkas Ardian.

Berikut naskah treatikal puisi ini:

“Manusia kah kalian”.
Berlari tiada henti, menelusuri ketidakadilan.
Begitu kejam kita dipermainkan, mungkin nurani telah mati.
Bagaikan hewan diperlakukan merangkak dengan goyah, bersuara paras tanpa dihiraukan.

“Manusia kah kalian”
Bisu dalam kejahatan.
Mengorbankan jiwa yang suci.
Berharga ku direnggut paksa, kegigihanmu.

Ai dodagi ma ideka dubuso ta lawan, ai siri duma deasa ta tahan, tamampo kawa so ohu aidiri tahike, tamampo kawa magena toma lawan, ani hiwaka o siri no dongosa ongomi dangodu ka morotai dasiri, kia ka bukti nia cinta dangodu o nyawaka, sehingga o keberanian nia pertahankan nia mampo wa.