“Kita berada di pasar melakukan pemantauan secara rutin supaya masyarakat tetap terjaga. Terakhir, tidak kalah penting kehadiran Tim Pengendalian Inflasi Daerah, Satgas Pangan di pasar itu sendiri bentuk komunikasi bahwa pemerintah hadir untuk menjaga harga,” jelasnya.
Ia menambahkan, kerawanan pangan dan risiko kenaikan bahan bakar diantisipasi dengan gerakan nasional pengendali inflasi pangan.
“Di Ternate kita melakukan gerakan, jadi kita antisipasi ketika Hari Besar Keagamaan Nasional terutama masyarakat punya alternatif sumber pangan yaitu tanam di pekarangan masing-masing rumah. Dari segi persiapan program kita lakukan dari Januari supaya bisa panen Maret, begitu pula di akhir tahun Agustus supaya bisa panen di Desember,” jelasnya.
“Untuk bisa mengurangi beban ketika kenaikan harga, ketika permintaan tinggi kemudian melakukan kerja sama antar daerah, memperluas kerja sama ke Halmahera Timur di sana kita melakukan demplot dalam rangka peningkatan sisi pasokan. Karena tadi Ternate 80-90 persen dari luar Ternate. Ketika ada gangguan cuaca atau ekstrem misalnya kapal dok otomatis menghambat harga, pasti naik,” kata Eko.
Jika produksi lokal cukup baik dan jumlahnya besar, ia berkata, akan sangat membantu di tengah situasi krisis.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.