Di segmen lain, pegiat geopark Maluku Utara itu juga mendorong anak-anak muda yang peduli pada isu lingkungan untuk memanfaatkan sosial media dalam membentuk gerakan sosial menjaga kawasan karst tersebut.
“Cukup satu konten dalam satu minggu. Yang penting ialah itu dilakukan secara rutin,” tambahnya.
Sementara itu, pemuda Sagea, Ical, menyebutkan warga gencar menjual lahan kepada pihak perusahaan, dan lahan mereka terletak tidak jauh dari wilayah konsesi.
“Permasalahannya, kepala desa justru menjadi contoh buruk dengan menjadi orang pertama yang menjualnya. Jadi, masyarakat pun mengikuti jejaknya,” tegasnya.
Ruang diskusi dan kampanye karst sagea harus masif dan konsisten dilakukan, untuk terus membangun kesadaran kolektif terhadap pentingnya karst sebagai sumber hidup dan kehidupan.




Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.