Selain soal biaya hidup, pria yang juga masih warga Maluku Utara ini menyoal banyaknya masalah di lingkar tambang.

Seperti masalah rawan kriminalitas karena keamanan yang kurang terjamin. Jalan yang becek di saat hujan dan berdebu saat musim panas akibat aktivitas truk-truk perusahaan menggunakan jalan umum, kemacetan di saat berangkat dan pulang kerja, kemudian masalah sampah yang dibuang sembarangan di tepi jalan dan laut karena tidak adanya fasilitas tempat sampah yang disediakan pemerintah.

Pemerintah desa di lingkar tambang pun seakan kurang memperhatikan lingkungannya masing-masing.

Untuk masalah kriminalitas, Ryz memberi contoh kasus terkait lapangan bola kaki di Desa Lelilef Sawai. Karena tidak dipagari dan tidak dipasang papan larangan agar tidak boleh melintas di atas lapangan oleh sepeda motor, membuat banyak orang baru di daerah tersebut kerap dipukuli warga.

“Kejadian berulang kali, di sini orang dari segala penjuru datang melamar kerja dan tidak tahu larangan itu. Banyak yang dipukul babak belur percuma oleh orang kampung,” timpalnya.