Sementara Pokja Perubahan Iklim Kota Ternate M. Risky Satria fokus menjelaskan penghitungan kerentanan dan potensi dampak dari perubahan iklim. Ia mengajak peserta secara partisipatif terlibat dalam mengidentifikasi aspek sosial dan ekonomi di Kelurahan Tubo.

“Jika kita bisa menghitung kerentanan dan potensi dampak perubahan iklim, kita bisa merumuskan respon yang kontekstual di Tubo terhadap perubahan iklim,” ucapnya.

Sementara itu, Sub Koordinator Data dan Informasi BMKG Ternate Setiawan Sri Raharjo menjelaskan sejumlah upaya adaptasi terhadap perubahan iklim, seperti mengedukasi warga, mengadopsi kearifan lokal dan memanfaatkan teknologi deteksi dini dan penting penyesuaian pola tanam dan berwisata dengan pola perubahan iklim.

“Nah, hubungan kalender Hijriah dengan pola tanam akan kami tindaklanjuti secepatnya,” ujarnya.

Ketua IAGI Maluku Utara Deddy Arif menjelaskan Tubo merupakan kelurahan pertama yang memiliki komunitas pro-iklim di Maluku Utara. Itulah sebabnya, peserta harus secara serius memanfaatkan skill dan pengetahuan dari pelatihan tersebut.