“Sejarah telah menorehkan perjalanan panjang dan kejayaan ‘Negeri Rempah’ adalah salah satu identitas yang melekat kuat tentang kejayaan kita di masa lalu. Kita kaya akan rempah-rempah (cengkeh dan pala) yang diperebutkan bangsa-bangsa Eropa maupun Asia Pasifik di tahun 1500-an. Dan bangsa-bangsa asing tersebut meninggalkan berbagai peninggalan sejarah, menjadi aset kepariwisataan yang bernilai jual dan berdaya saing tinggi dalam pengembangan kepariwisataan ke depan,” tuturnya.
Thamrin Ali Ibrahim, inisiator acara sekaligus Project Manager Literasi Digital Maluku Utara mengungkapkan sebagai daerah kerajaan, Maluku Utara yang terkenal dengan empat kesultanan Moloku Kie Raha (Kesultanan Ternate, Tidore jailolo, dan Bacan) di mana nilai-nilai budaya yang masih sangat kuat perannya dan hingga kini masih tetap fungsional dalam kehidupan masyarakat Maluku Utara maka upaya pelestarian kebudayaan yang mencakup di antaranya adalah perlindungan dan pengembangan perlu mendapat perhatian bersama.
“Dengan demikian Festival Moloku Kie Raha menjadi penting guna peningkatan mewujudkan visi pelestarian tersebut sekaligus sebagai peluang kerjasama lintas sektor dalam pengembangan kepariwisataan dan kebudayaan Maluku utara baik di kancah nasional maupun internasional,” tukas Thamrin.

Dengan basis kesejarahan itulah, sambungnya, diharapkan pencanangan (launching) Festival Moloku Kie Raha yang dilaksanakan pada tanggal 27 November nanti sebagai rangkaian Sail Tidore akan mendapat dukungan penuh dari seluruh stakeholders serta insan pariwisata dan pekerja seni dan budaya guna mendukung dan menyukseskan agenda-agenda menuju Festival Moloku Kie Raha yang akan digelar di masa mendatang.
“Dan untuk menuju ke sana, telah dibacakan Deklarasi Dukungan atas Festival Moloku Kie Raha pada panggung Literasi Digital di Taman Film Fort Oranje Ternate,” ujarnya.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.