Dapat kita lihat, pada era teknologi yang canggih ini minimnya budaya literasi dan sikap malas untuk mengembangkan gagasan sangat nampak. Contohnya berapa waktu rata-rata yang dihabiskan untuk bermain gadget per hari? Berapa waktu per hari yang digunakan untuk curhat di media sosial? Dari  hal tersebut dapat dibandingkan bahwa masyarakat Indonesia terkhususnya masyarakat Maluku Utara menyisihikan waktu untuk literasi sangat rendah. Adanya perpustakaan desa dan LIGIT, memiliki manfaat bagi setiap individu masyarakat Maluku Utara. Mengapa? Karena menghemat waktu, belajar lebih cepat, menghemat uang, membuat lebih aman, memperoleh informasi terkini dan selalu terhubung dengan perkembangan-perkembangan saat ini.

Untuk mengembangkan minat baca, menurut Arfan Muamar seorang pengamat pendidikan penulis buku nalar kritis pendidikan, yaitu berteman dengan orang-orang “reading holic”, rajin membeli buku, menaruh buku di area-area yang mudah dilihat. Tak hanya itu, agar menghilangkan kebosanan pada buku yang sedang kita baca, beralih pada buku kita yang lain juga merupakan salah satu menumbuhkembangkan minat baca dalam diri. Mari membaca karena buku adalah jendela dunia! Mari menulis karena tulisan adalah pengikat ilmu! (*)