Dalam konteks hari ini, bagaimana anak muda memaknai kemajuan itu, apakah budaya literasi masih saja terjebak pada teknologi. Penting kiranya, di Maluku Utara kita menciptakan kembali produk-produk penulis sebagai nalar untuk kemajuan kota, bukan hanya sekadar argumentasi saja.
Literasi seharusnya mampu menyelesaikan problem kemiskinan, kesejahteraan, bahkan tidak gaptek terhadap perkembangan zaman. Kita membutuhkan komitmen segala aspek seperti saya sebutkan di atas yaitu ruang kolaborasi.
Jika esensi dari kemajuan literasi bisa pahami sebagai kemajuan kota; maka tidak mungkin seorang pegawai tambang rela-rela membaca sebuah buku puisi yang dia beli di Gramedia, seberapa penting bagi dia. Analogi ini dipakai sebagaimana saya berpendapat, bahwa seorang penulis akan terus menulis, seorang penyair akan terus menulis puisinya, bahkan untuk memahami bagaimana dia membaca sebuah buku hingga selesai. Yang pasti dia akan membaca sampai selesai sebuah novel, esai, bahkan puisi, atau koran, atau apapun itu yang dibacanya, sudah pasti bersentuhan dengan berbagai aspek. Artinya tidak ada novel yang bisa selesai dibaca ketika kebutuhan dapur belum terpenuhi, maka literasi perlu menjawab itu? (*)


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.