Selalu ada jalan bagi yang berusaha. Di tengah keputusasaan itu, hadirlah sosok mulia. Nenek Sabaria namanya. Umurnya sudah kepala enam. Dia secara sukarela meminjamkan rumahnya dipakai sebagai tempat beraktivitas rumah baca. Jadilah rumah itu mengawali aktivitas kami selama hampir setahun lebih ini.

Perlahan namun pasti, satu demi satu murid bergabung. Ramai. Diisi oleh anak sekolah. Pembiasaan pun jadi metode. Metode rumah baca dititikberatkan pada metode mencintai budaya membaca. Penerapan paling utama ialah bagaimana mereka mengertakan motorik pikir guna menciptkan karya. Alhasil, dengan metode ini beberapa dari mereka menunjukkan perkembangan signifikan. Keterampilan membaca menjadi lebih baik, dan lahir karya seperti cerpen dan puisi yang bakal dibukukan.

Tantangan berikutnya adalah bahan bacaan sebagai sumber referensi. Minimnya bahan bacaan tentu bukan perkara baru. Rumah baca dengan minim buku adalah perkara umum yang hampir terjadi. Buku yang kami gunakan bermula dari hasil pinjaman di sekolah. Tidak cukup beragam untuk menarik minta baca. Enam bulan itu menjadi kebiasaan. Kehabisan baca kami talangi dengan membantu menyelesaikan tugas-tugas pelajaran siswa rumah baca.

Bulan ketujuh, beberapa mahasiswa desa mulai tergerak. Menggalang donasi buku dan terkumpul beberapa buku yang menjadi koleksi pertama rumah baca. Lalu hadir lagi dari Jakarta yang digalang senior dan paling getol ialah Pak Ujud Radjiloen. Mantan kepala sekolah yang sangat mendukung perihal literasi dan kebudayaan. Ia menjadi satu sosok sentral menumbuhkan kebudayaan togal yang diajarkan mulai dari sekolah dasar.

Ketika suatu kebiasaan mulai berkembang dan memberikan dampak maka tumbuh kesadaran dan keerpanggilan. Rumah baca ini kemudian bertranformasi lewat berbagai dukungan. Utamanya masyarakat. Perlahan namun pasti, masyarakat berlahan namun pasti turut mendukung dan memotivasi kami. Satu di antara mereka adalah Pak Gurdam, yang selalu memantau perkembangan rumah baca. Mengajak diskusi tentang pentingnya rumah baca dan membangun kesadaran pikir ke masyarakat. Pun dengan perubahan cara pandang warga. Beberapa kali ucapan terima kasih orang tua murid diterima karena mau memberikan kesempatan menempa diri di rumah baca.